GoPro Terancam Bangkrut Setelah Terbitkan Peringatan Going Concern
GoPro, perusahaan kamera aksi asal Amerika Serikat, secara resmi mengakui adanya keraguan substansial terhadap kemampuannya untuk melanjutkan operasi bisnis.
Peringatan going concern ini disampaikan dalam laporan keuangan terbaru yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC). Auditor independen PricewaterhouseCoopers turut mendukung pernyataan tersebut.
>>> Ookla: Jutaan Pengguna Internet Masih Bergantung pada Router WiFi Lawas
Tanpa suntikan modal baru atau akuisisi, GoPro kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan dalam 12 bulan ke depan.
Laporan keuangan menunjukkan pendapatan total GoPro turun 19 persen pada tahun fiskal terakhir menjadi 652 juta dolar AS atau sekitar Rp 11,5 triliun.
Perusahaan juga mencatat kerugian bersih sebesar 93,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,63 triliun.
Likuiditas perusahaan terus menipis dengan posisi kas hanya 49,7 juta dolar AS, menyusut setengah dari tahun sebelumnya.
GoPro masih memiliki utang bank sebesar 88,6 juta dolar AS. Peringatan going concern memicu status default yang membuat seluruh utang terancam ditagih sekaligus.
Manajemen saat ini sedang bernegosiasi dengan kreditur untuk mendapatkan keringanan.
>>> Raffi Ahmad Ungkap Reaksi Nagita Slavina saat Namanya Terseret Kasus Blueray Cargo
Situasi ini kontras dengan era kejayaan GoPro di dekade 2010-an ketika valuasi pasarnya sempat menembus 10 miliar dolar AS.
Persaingan Ketat dan Dampak Kenaikan Harga Komponen
Kejatuhan GoPro dipicu oleh perkembangan kamera ponsel pintar yang semakin canggih. Namun, ancaman terbesar datang dari DJI, produsen teknologi asal Shenzhen, China.
DJI memperluas pasar kamera aksi melalui lini Osmo Action, Osmo Pocket, dan Osmo 360 dengan spesifikasi tinggi dan harga lebih terjangkau.
GoPro merilis platform Mission 1 sebagai perlawanan, tetapi peluncuran Max 2 tertunda sehingga kehilangan momentum musim liburan.
Krisis semakin berat akibat lonjakan harga flash memory sejak akhir 2025. Kenaikan ini dipicu permintaan tinggi dari sektor AI dan pusat data, yang membuat biaya produksi GoPro membengkak.
GoPro telah melakukan PHK terhadap 23 persen atau sekitar 145 karyawan. Perusahaan juga menunjuk penasihat keuangan untuk mengkaji opsi merger, penjualan, atau mencari mitra strategis.
>>> Sistem Keamanan Ketat Model AI Fable 5 Anthropic Picu Protes Pengguna
Dewan direksi mulai mengalihkan fokus ke sektor pertahanan dan aerospace yang membutuhkan kamera dengan daya tahan tinggi.
Update Terbaru
BGN Tutup Permanen 833 Dapur MBG karena Langgar Aturan
Senin / 27-07-2026, 19:56 WIB
Ribka Haluk Dorong Kepemimpinan Perempuan Transformatif di Daerah
Senin / 27-07-2026, 19:56 WIB
Polisi Pastikan Tak Ada Racun di Klinik Jaksel Terkait Kematian Sutrimo
Senin / 27-07-2026, 19:56 WIB
Sponsor Piala Presiden 2026 Capai Rp60 Miliar, Ara Yakin Bertambah
Senin / 27-07-2026, 19:56 WIB
Polri Beri Jaminan: Semua Anggota Terlibat Narkoba Akan Diproses
Senin / 27-07-2026, 19:49 WIB
KPK Pastikan Perlakuan Sama untuk Febrie Adriansyah di Rutan
Senin / 27-07-2026, 19:49 WIB
Dugaan Pelecehan, Kredivo Hentikan Tugas Debt Collector di Purworejo
Senin / 27-07-2026, 19:49 WIB
Megawati Ungkap Sejarah Kelam Kudatuli saat Resmikan Monumen
Senin / 27-07-2026, 19:49 WIB
5 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Kucing Semakin Sayang Pemiliknya
Senin / 27-07-2026, 19:42 WIB
Tanpa Justin Hubner, Siapa Bek Kiri Andalan Timnas Indonesia Vs Kamboja?
Senin / 27-07-2026, 19:42 WIB
Aktor Link di Film Zelda Akui Tak Bisa Main Breath of the Wild Saat Rilis karena Masih Kecil
Senin / 27-07-2026, 19:42 WIB
Eks Eksekutif Netflix Gugat Perusahaan Usai Dipecat karena Ungkap Terapi Ketamin
Senin / 27-07-2026, 19:42 WIB
Zenless Zone Zero Gandeng Banolim Pizza, Hadirkan Menu Spesial dan Koleksi Eksklusif
Senin / 27-07-2026, 19:35 WIB
Nintendo Maintenance Juli 2026: Daftar Game yang Terkena Dampak
Senin / 27-07-2026, 19:35 WIB







