Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Kamis (11/6/2026), merespons lonjakan harga Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku sejak sehari sebelumnya.

>>> Dolar AS Stabil Jelang Akhir Pekan 12 Juni 2026 Saat Tensi Geopolitik Melandai

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.

Sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

"Harga yang nonsubsidi itu menyesuaikan harga pasar yang ada. Tentu perhitungannya dilakukan secara bijak oleh pelaku usaha baik Pertamina maupun badan usaha yang lain," kata Bahlil.

Pemerintah menyerahkan skema perhitungan harga kepada masing-masing badan usaha penyalur di lapangan. Formulasi tarif baru disebut murni mengikuti perkembangan sektor energi global.

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik

Berbeda dengan jenis nonsubsidi, Bahlil memberikan garansi bahwa harga Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami perubahan dalam waktu dekat.

>>> Penjualan Kendaraan Elektrifikasi Indonesia Capai 93.839 Unit per Mei 2026

"Untuk subsidi nggak ada (kenaikan)," ucap Bahlil tegas.

Pemerintah saat ini masih mengkaji formula insentif tambahan untuk meredam dampak lonjakan harga Pertamax. Berbagai opsi regulasi tengah digodok agar tepat sasaran dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

"Kita belum ada keputusan sama sekali. Masih melakukan kajian.

Kita exercise semua alternatif, yang penting adalah kita menjaga saudara kita yang ekonomi ke bawah, ini yang subsidi," tandas Bahlil.

>>> Piala Dunia 2026 Sepi Peminat, Sektor Pariwisata AS Alami Penurunan

Menurutnya, konsumen BBM nonsubsidi adalah kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang lebih baik, sehingga wajar jika mereka menanggung harga pasar.