Ekspektasi lonjakan besar pada sektor perjalanan dan pariwisata dari gelombang penonton Piala Dunia 2026 hingga kini belum kunjung menjadi kenyataan.

Turnamen sepak bola terbesar di dunia tahun ini diselenggarakan secara bersama di tiga negara, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.

>>> BEM SI Ultimatum 18 Hari ke Pemerintah Atasi Pelemahan Rupiah

Industri perjalanan di AS sebelumnya memproyeksikan ajang ini akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar selama bertahun-tahun.

Namun, jumlah pelancong mancanegara yang datang ke AS justru merosot, seiring mencuatnya kekhawatiran dari kelompok hak asasi manusia di negara tersebut.

Target suporter asing yang diperkirakan memadati kota-kota penyelenggara ternyata jauh dari harapan.

Situasi tersebut pada akhirnya memaksa pengelola akomodasi dan perhotelan untuk memangkas tarif sewa kamar mereka secara signifikan.

Kondisi ini diperparah dengan melemahnya pemesanan tiket penerbangan setelah harga tiket pesawat melambung tinggi.

Faktor harga tiket masuk pertandingan yang sangat mahal juga dinilai semakin mengikis minat para penggemar untuk datang langsung ke stadion.

Beberapa pengamat industri menilai bahwa daya tarik turnamen kali ini berada di tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan edisi Piala Dunia sebelumnya.

Fase awal yang sepi ini memperlihatkan bahwa model bisnis yang mengandalkan kunjungan fan internasional dengan daya beli tinggi mulai kehilangan keampuhannya.

Faktor-faktor seperti biaya akomodasi yang tinggi, hambatan dalam pengurusan visa, serta rumitnya transportasi antarkota di tiga negara menjadi batu sandungan utama.

Di sisi lain, pergerakan wisatawan domestik di AS belum mampu menambal kekurangan jumlah kunjungan tersebut.

Sepak bola sendiri masih belum bisa menandingi popularitas beberapa cabang olahraga utama lainnya di mata warga Amerika Serikat.