Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil pada perdagangan Jumat (12/6/2026) setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan.

Pelaku pasar kini fokus pada perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran.

>>> Penjualan Kendaraan Elektrifikasi Indonesia Capai 93.839 Unit per Mei 2026

Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat tipis 0,1% ke level 160,07 yen.

Sementara itu, dolar Australia turun 0,1% ke US$ 0,7045 dan dolar Selandia Baru melemah 0,1% ke US$ 0,5830.

Di Eropa, euro bertahan di kisaran US$ 1,1576, mendekati level tertinggi dalam sepekan terakhir.

Keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun turut mendukung euro.

Poundsterling bergerak datar di level US$ 1,3414.

Analis Westpac menilai pasar berbalik arah setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Trump mengindikasikan kesepakatan damai dapat tercapai pada akhir pekan ini, yang menekan indeks dolar AS (DXY) dan mendorong penguatan mata uang utama.

Optimisme perdamaian di Timur Tengah juga menekan harga minyak dunia.

Harga minyak Brent turun 1,6% menjadi US$ 88,94 per barel pada perdagangan Asia, setelah Trump menyatakan kedua negara berpotensi menandatangani perjanjian damai.

Kesepakatan tersebut diproyeksikan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pihak Iran menegaskan belum ada keputusan final terkait kesepakatan itu.

>>> Piala Dunia 2026 Sepi Peminat, Sektor Pariwisata AS Alami Penurunan

Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan indeks harga produsen (PPI) naik lebih tinggi dari perkiraan pada Mei 2026.

Kenaikan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir ini dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.