Danantara Investment Management, unit investasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, mencatat kelebihan permintaan dalam penjualan perdana obligasi dolar AS.

Pesanan yang masuk mencapai lebih dari US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 75 triliun, jauh melampaui target penghimpunan dana sebesar US$ 1 miliar.

>>> Menteri PU Tanggapi Keluhan Kontraktor soal Lonjakan Harga Bahan Bangunan

Dana tersebut akan diperoleh melalui penerbitan obligasi tenor lima tahun dan 10 tahun, masing-masing sebesar US$ 500 juta.

Tingginya minat investor membuat Danantara memangkas imbal hasil (yield) yang ditawarkan. Obligasi tenor lima tahun kini dipatok pada kisaran 5,35%, sementara tenor 10 tahun sebesar 5,95%.

Angka tersebut lebih rendah dibanding panduan awal yang berada di sekitar 5,70% dan 6,30%.

Permintaan yang masuk hingga Kamis sore waktu Asia mencapai lebih dari US$ 4,6 miliar, termasuk minat senilai US$ 425 juta dari bank-bank yang bertindak sebagai penjamin emisi dan pengatur transaksi.

Penerbitan obligasi ini menjadi ujian penting bagi kepercayaan investor asing terhadap Indonesia di tengah pelemahan rupiah dan kekhawatiran pasar terhadap sejumlah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa lalu untuk menahan pelemahan rupiah yang sempat mencetak rekor terendah terhadap dolar AS.

Perhatian investor juga tertuju pada peran Danantara yang terus berkembang.

>>> Nova Arianto Turunkan Mathew Baker Sejak Menit Awal Kontra Australia

Lembaga tersebut kini mendapat mandat baru untuk menjadi satu-satunya eksportir sejumlah komoditas strategis Indonesia seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy melalui unit usaha baru yang ditargetkan mulai beroperasi pada September mendatang.