Umat Islam diingatkan untuk merefleksikan diri seiring berakhirnya tahun Hijriyah.

Momen pergantian tahun ini menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi apakah waktu yang telah berlalu dimanfaatkan dengan baik atau terbuang sia-sia.

>>> Pemerintah Revitalisasi 71.744 Satuan Pendidikan dengan Anggaran Rp14 Triliun

Kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengelola waktu. Dalam pandangan Islam, keberhasilan sejati tercapai ketika seseorang mampu menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan tujuan akhirat.

Islam tidak hanya memprioritaskan kehidupan akhirat di atas dunia, melainkan menghendaki keduanya berjalan beriringan. Al-Qur'an mengontraskan kehidupan dunia sebagai tempat permainan belaka melalui Surah al-Ankabut ayat 64.

Manusia dituntut untuk memaksimalkan waktu yang terus berjalan agar tidak mengalami penyesalan di akhirat.

Penyesalan orang-orang durhaka yang memohon kembali ke dunia digambarkan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 99-100.

Kerugian besar akan menimpa seseorang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal tidak bermanfaat.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad menyatakan bahwa kesibukan pada hal yang tidak berfaedah merupakan tanda Allah berpaling dari hamba-Nya.

Muhasabah dan Keberkahan Usia

Sisa usia yang dimiliki manusia merupakan momentum tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri serta ishlah atau perbaikan.

Mengenai keberkahan usia, Syekh Ahmad ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam menyatakan bahwa kadang umur panjang namun manfaat kurang, kadang umur pendek namun manfaat melimpah.

>>> Akamai Technologies Catat Pendapatan Rp 1 Miliar Dolar di Asia Pasifik

Setiap manusia tidak pernah mengetahui kapan ajalnya tiba karena kehidupan ini hanyalah waktu tunggu. Usia manusia akan terus berkurang dan terkikis oleh pergantian waktu tanpa memandang batas umur.

Rasulullah SAW menjelaskan tolok ukur manusia terbaik dan terburuk berdasarkan pemanfaatan umur.