Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.993 per Dolar AS pada 11 Juni 2026
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada sesi perdagangan Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan data Bloomberg Technoz, rupiah melemah 0,22% ke posisi Rp17.993 per dolar AS.
>>> Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat Jadi 5 Persen
Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas air bersih di Iran.
Mata uang Indonesia bergerak selaras dengan sejumlah mata uang Asia lainnya yang juga melemah.
Won Korea Selatan, rupee India, baht Thailand, ringgit Malaysia, yuan China, dan dolar Singapura turut mengalami pelemahan.
Sementara itu, dolar Taiwan, peso Filipina, yuan offshore, yen Jepang, dan dolar Hong Kong mencatat penguatan.
Indeks dolar AS masih bertahan tinggi di level 99,98.
Harga minyak mentah justru turun 0,59% ke US$92,55 per barel karena serangan belum menyasar aset energi dan pasar menemukan jalur alternatif.
Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, mengatakan beberapa hari ke depan akan krusial untuk menentukan apakah diplomasi dapat kembali berperan atau konflik bereskalasi.
Dari sisi domestik, pasar obligasi Indonesia mengalami tekanan aksi jual.
>>> Said Iqbal Temui Wamenaker Bahas Revisi Aturan Outsourcing
Imbal hasil tenor 10 tahun naik 10,9 basis poin menjadi 7,45%, tenor 11 tahun melonjak 59,5 bps ke 7,52%, tenor 8 tahun naik 17,9 bps ke 7,46%, dan tenor 5 tahun naik 1,7 bps ke 7,47%.
Kombinasi pelemahan rupiah dan aksi jual obligasi menunjukkan tekanan tidak murni dari faktor internal.
Koreksi yang terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang Asia menandakan pasar sedang menilai ulang risiko global akibat konflik Timur Tengah.
Lonjakan imbal hasil obligasi di seluruh tenor mencerminkan investor meminta premi risiko lebih tinggi sebelum menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Sentimen negatif sedikit tertahan oleh rilis data Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia.
Data penjualan eceran April mengonfirmasi kontraksi konsumsi pasca-Lebaran, namun diperkirakan segera mereda.
Proyeksi penjualan ritel Mei hanya kontraksi 0,9% secara bulanan, membaik dibandingkan kontraksi April yang mencapai 11,6%.
>>> Grup T&Pop PERSES Siapkan Rekomendasi Lagu Menjelang Fancon di Jakarta
Optimisme pelaku usaha terhadap prospek permintaan domestik pada paruh kedua tahun ini masih terjaga, dengan ekspektasi penjualan enam bulan ke depan naik ke level 149,4.
Update Terbaru
PTBA Setujui Dividen Rp1,3 Triliun untuk Tahun Buku 2025
Kamis / 11-06-2026, 17:02 WIB
Energi Mega Persada Tetapkan Harga Rights Issue Rp310 per Saham
Kamis / 11-06-2026, 17:02 WIB
Xavi Hernandez dan Barcelona Makin Panas Akibat Larangan Bela Tim Legends
Kamis / 11-06-2026, 17:01 WIB
Alpha School AS Gantikan Peran Guru dengan Platform AI
Kamis / 11-06-2026, 17:00 WIB
Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax 32% Jadi Rp16.250 per Liter
Kamis / 11-06-2026, 16:57 WIB
Ade Jona Prasetyo Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BPP Hipmi
Kamis / 11-06-2026, 16:57 WIB
Jemaah Haji Padati Pabrik Parfum Legendaris Al&Qurashi di Taif
Kamis / 11-06-2026, 16:56 WIB
BOYNEXTDOOR dan RESCENE Tembus Chart Melon Top 100 Pekan Ini
Kamis / 11-06-2026, 16:56 WIB
Timnas Indonesia U-19 Hadapi Rekor Buruk Semifinal Jelang Lawan Australia
Kamis / 11-06-2026, 16:56 WIB
PT Suryacipta Swadaya Mulai Bangun Smartpolitan Building di Subang
Kamis / 11-06-2026, 16:53 WIB
Timnas Meksiko Hadapi Afrika Selatan pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Kamis / 11-06-2026, 16:53 WIB
ADIGSI dan CREST International Jalin Kerja Sama Perkuat Keamanan Siber Indonesia
Kamis / 11-06-2026, 16:53 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 17.988 per Dolar AS Akibat Sentimen Ganda
Kamis / 11-06-2026, 16:52 WIB
Kementerian ATR/BPN Usul Tambahan Anggaran Rp3,23 Triliun untuk 2027
Kamis / 11-06-2026, 16:52 WIB






