Akamai Technologies mencatatkan pendapatan tahunan di atas US$1 miliar atau setara Rp18 triliun di Asia Pasifik pada 2025.

Pencapaian ini menandai peralihan fokus perusahaan ke infrastruktur eksekusi kecerdasan buatan di kawasan tersebut.

>>> Demam Piala Dunia 2026, Jersey KW Tanah Abang Laris Manis

Pendapatan tersebut menjadi titik balik bagi bisnis regional Akamai. Perusahaan kini beralih dari model pelatihan terpusat menuju inferensi terdistribusi untuk mengatasi kendala arsitektur cloud konvensional.

Senior Vice President of Sales dan Managing Director Asia Pasifik Sean Li mengatakan tantangan saat ini adalah memastikan AI berfungsi di lingkungan nyata.

Latensi, skalabilitas, dan keandalan secara langsung memengaruhi pendapatan dan pengalaman pelanggan.

Akamai memindahkan proses inferensi ke edge untuk menghadirkan platform yang mendukung penerapan AI secara instan dan aman.

"Dengan mendekatkan layanan cloud dan inferensi ke titik interaksi, kami membantu pelanggan bergerak lebih cepat," kata Sean Li.

>>> Menteri Trenggono Usulkan Tambahan Anggaran KKP Rp 30 Triliun untuk 2027

Ancaman Siber di Sektor Keuangan

Di sisi lain, adopsi digital memperluas permukaan serangan siber yang menyasar lembaga keuangan di Asia Pasifik.

Laporan Keamanan State of the Internet Akamai mencatat kawasan ini menyumbang 52 persen serangan DDoS Layer 7 global terhadap jasa keuangan pada 2025.

Sektor perbankan dan fintech menjadi target utama dengan porsi masing-masing 44 persen dan 38 persen.

Aktivitas bot canggih melonjak 147 persen pada akhir 2025, sementara hanya 27 persen pemimpin TI yang mengetahui API yang mengekspos data sensitif.

Director of Security Technology and Strategy Asia Pasifik Akamai Reuben Koh mengatakan setiap layanan pembayaran, fitur mobile banking, dan integrasi fintech menciptakan dependensi yang dapat diuji penyerang.

>>> FIFA Tetapkan Kapasitas Final 16 Stadion Piala Dunia 2026

Serangan DDoS dirancang menggunakan trafik yang terlihat sah untuk membanjiri portal perbankan online.