Negara-negara di kawasan Asia mulai melirik batu bara sebagai alternatif pengganti minyak bumi akibat gangguan pasokan energi.

Penutupan efektif Selat Hormuz pada awal Maret menjadi pemicu utama peralihan ini, mengingat jalur tersebut merupakan rute distribusi minyak utama dari Teluk Persia.

>>> Bank Indonesia Catat Penjualan Eceran April 2026 Melambat

Menurut laporan analis, situasi tersebut mendorong pembeli di Asia mencari sumber energi lain. China, misalnya, memotong impor minyak dan memanfaatkan batu bara sebagai bahan baku produksi bahan kimia.

Konfirmasi dari Industri Pelayaran

Strategi pengalihan pasokan energi ini dikonfirmasi oleh pelaku industri pelayaran internasional, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis (11/6/2026).

"China telah menambah stok batu bara dalam jumlah besar dalam beberapa bulan terakhir," kata Stamatis Tsantanis, CEO Seanergy Maritime Holdings Corp.

Pimpinan perusahaan operator pelayaran Capesize tersebut menyampaikan penjelasannya dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Rabu (10/6/2026).

>>> Timnas U19 Indonesia Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026

Selain Asia, Tsantanis menekankan bahwa batu bara juga menjadi komoditas strategis bagi Amerika Serikat.

Ia memperingatkan bahwa lonjakan permintaan dan harga bahan bakar bisa semakin parah jika fenomena El Niño yang kuat ikut mengancam stabilitas energi di sejumlah wilayah Asia.

Seanergy saat ini tidak mengoperasikan kapal yang membawa minyak atau melewati Selat Hormuz yang diblokir. Namun, imbas kenaikan biaya tetap tidak terhindarkan.

Penutupan jalur penting seperti di Laut Merah memaksa kapal mengambil rute lebih panjang, sehingga ongkos transportasi membengkak.

>>> 7 Hero Counter Sun Mobile Legends Terbaik untuk Menghalangi Split Push

Tsantanis menegaskan bahwa pembengkakan biaya ini berdampak luas hingga ke luar pasar energi tradisional, termasuk pengiriman bahan baku untuk proyek infrastruktur global dan pembangunan pusat data.