Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5,0% pada tahun 2026.

Perlambatan ini dipicu oleh tekanan eksternal yang kuat terhadap sektor investasi dan kinerja ekspor nasional.

>>> Jadwal KRL Jogja Solo 11 Juni 2026: Perjalanan Pagi hingga Malam

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia menyebutkan bahwa perkiraan pertumbuhan tahun 2026 masih didukung oleh realisasi ekonomi kuartal I yang melampaui estimasi awal.

Akselerasi realisasi anggaran belanja negara pada awal tahun juga menjadi pendorong utama.

Konsumsi rumah tangga diprediksi tetap stabil dan tumbuh di kisaran 5% sepanjang tahun 2026 berkat stimulus fiskal pemerintah.

Sementara itu, konsumsi pemerintah berpotensi melonjak hingga 8,7%.

Risiko Ketergantungan pada Konsumsi Publik

Meskipun stimulus publik efektif sebagai bantalan ekonomi jangka pendek, Bank Dunia memberikan catatan khusus.

"Ketergantungan pada konsumsi publik sebagai penopang pertumbuhan jangka pendek mengandung risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah penerapan aturan fiskal yang diamanatkan undang-undang," tulis Bank Dunia dalam laporannya, Kamis (11/6/2026).

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah diproyeksikan masih berlanjut sepanjang 2026 meski dalam skala terkendali. Situasi ini berdampak pada rantai pasok energi dan logistik global.

Akibatnya, harga minyak mentah Brent diperkirakan bertahan di level US$ 94 per barel. Angka tersebut lebih tinggi sekitar US$ 24 dibandingkan asumsi harga minyak dalam APBN 2026.

Kondisi keuangan global diperkirakan tetap ketat dengan tingkat imbal hasil obligasi yang tinggi. Premi risiko juga rentan bergejolak jika terjadi guncangan baru di pasar finansial internasional.

Permintaan di pasar global berpotensi melemah selama 2026 sebelum pulih bertahap pada 2027-2028.