Konsumen sering melihat informasi jarak tempuh kendaraan listrik berdasarkan standar WLTP atau NEDC.

Namun, kini semakin banyak produsen otomotif yang mencantumkan angka performa berdasarkan metode China Light-Duty Vehicle Test Cycle atau CLTC.

>>> Cara Sanggah Penerima Bansos 2026 Online dan Offline

Siklus pengujian CLTC digunakan untuk mengukur daya jelajah dan konsumsi energi kendaraan listrik, khususnya di pasar China. Pengujian ini dikembangkan untuk mensimulasikan situasi berkendara umum di perkotaan China.

Kondisi yang disimulasikan meliputi kemacetan lalu lintas padat, kecepatan rata-rata rendah, serta aktivitas berhenti-jalan. Metode ini juga menguji pola akselerasi kendaraan yang beragam di jalan raya.

Formulasi yang disesuaikan dengan lalu lintas kota membuat hasil pengetesan CLTC relevan bagi pengendara di kawasan padat.

Standar ini umumnya menghasilkan angka jarak tempuh lebih tinggi dibandingkan WLTP maupun NEDC.

Hasil tersebut terjadi karena proses pengujian lebih didominasi simulasi berkendara dalam kota berkecepatan rendah. Situasi seperti ini cenderung membuat konsumsi energi mobil listrik lebih efisien.

Angka pengetesan ini dapat memberikan gambaran mendekati realitas bagi pengguna yang mayoritas beraktivitas di pusat kota. Penggunaan standar CLTC utamanya diterapkan untuk pasar domestik China.

Kendaraan listrik yang dipasarkan di China akan menampilkan data kemampuan baterai lewat metode tersebut.

>>> PT Citra Borneo Utama Tbk Raup Laba Rp 45 Miliar di Kuartal I-2026

Sementara itu, mobil listrik untuk pasar Eropa umumnya memakai regulasi WLTP, dan pasar Amerika Serikat mengandalkan EPA.

Konsumen perlu mencermati standar pengujian saat membandingkan model global seperti Tesla, Nio, BYD, atau merek lainnya. Pemahaman ini penting agar pembeli tidak salah menafsirkan kemampuan jelajah sebenarnya.