Masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sering mengaitkan bulan Muharram atau malam 1 Suro dengan berbagai tradisi dan pantangan.

Sebagian orang percaya bahwa waktu tersebut membawa nuansa mistis sehingga muncul larangan menikah, pindah rumah, atau menggelar hajatan karena takut mendatangkan kesialan.

>>> FIFA Catat Penjualan 6 Juta Tiket Piala Dunia 2026

Padahal, dalam ajaran Islam, Muharram adalah bulan yang dimuliakan.

Bulan pertama dalam kalender Hijriah ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang disebut dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 36.

Para ulama menafsirkan bahwa empat bulan mulia itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa bulan-bulan haram menjadi momentum spiritual untuk memperkuat ketakwaan dan memperbanyak amal kebajikan.

Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai 'Syahrullah' atau bulan Allah. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa penyandaran kata 'Allah' pada bulan Muharram menunjukkan kemuliaannya dibanding bulan lain.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah seperti puasa, sedekah, dan zikir.

Asal Usul Istilah Suro dan Mitos yang Melekat

Istilah 'Suro' berasal dari kata 'Asyura' yang merujuk pada tanggal 10 Muharram.

Sinkretisme budaya lokal dengan kalender Islam sejak era Kesultanan Mataram melahirkan penanggalan Jawa-Islam yang memicu konsep keramat dan mistis seputar malam 1 Suro.

Clifford Geertz dalam buku Islam Jawa menjelaskan bahwa tradisi masyarakat Jawa terbentuk dari interaksi panjang antara adat lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.

Akulturasi ini menyebabkan sebagian orang menganggap malam 1 Suro memiliki kekuatan supranatural, meski Islam tidak memiliki dalil tentang malam pembawa petaka.