Bursa saham Asia berbalik melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah sempat dibuka menguat tipis. Tekanan jual massal di Wall Street menjadi pemicu utama kejatuhan ini.

Lonjakan inflasi Amerika Serikat serta eskalasi militer terbaru antara AS dan Iran mendongkrak harga minyak mentah dunia. Kondisi ini membuat pasar modal regional terpuruk.

>>> Empat Tim Amankan Tiket Semifinal Upper Bracket MPL ID S17

Indeks regional MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang merosot 1 persen. Sementara itu, bursa Taiwan dan indeks Nikkei 225 Jepang sama-sama turun tajam hingga 1,5 persen.

Sebaliknya, kontrak berjangka S&P 500 e-mini berhasil pulih dan menguat tipis 0,2 persen.

Sebelumnya, indeks S&P 500 jatuh 1,6 persen dan Nasdaq Composite ambles 2,0 persen setelah rilis data inflasi AS yang berakselerasi pada laju tercepat sejak April 2023.

Eskalasi Timur Tengah dan Dampaknya

Eskalasi di Timur Tengah memanas setelah militer AS meluncurkan gelombang serangan baru terhadap beberapa target di Iran.

Langkah ini diambil beberapa jam setelah Presiden Donald Trump bersumpah mengintensifkan serangan jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai.

Pemerintah Iran merespons dengan mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur logistik laut krusial bagi pasokan energi global.

Akibatnya, minyak mentah jenis Brent melonjak 1,6 persen ke level US$ 94,55 per barel di pasar Asia.

>>> Taiwan Usir Kapal Patroli China di Perairan Timur, Tegaskan Kedaulatan

Sektor teknologi bursa Asia juga berada dalam posisi rentan setelah memimpin reli dalam dua bulan terakhir.

Pasar meragukan ekspektasi laba bersih yang terlampau tinggi, dan valuasi yang sangat tinggi dinilai menciptakan latar belakang yang rapuh bagi momentum sektor kecerdasan buatan (AI).