Bursa China dan Hong Kong Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi
Pasar saham China dan Hong Kong mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Aksi jual massal di sektor teknologi menjadi pemicu utama pelemahan.
Indeks Shanghai Composite turun 0,7% pada jeda siang, sementara CSI300 terkoreksi lebih dalam hingga 1,1%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga jatuh 1,1%.
>>> Validasi SKTP Juni 2026 Dimulai, Tunjangan Profesi Guru Cair Bulanan
Sektor teknologi menjadi beban utama.
Indeks STAR 50 di China melemah 1,1%, ChiNext merosot 1,8%, dan indeks teknologi Hong Kong turun sekitar 2%.
Pelemahan meluas ke kawasan Asia.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun mendekati 1%, sementara bursa Taiwan dan Jepang juga bergerak negatif.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah memicu kekhawatiran investor.
Amerika Serikat meluncurkan serangan baru ke target di Iran, dan Presiden Trump mengancam aksi militer lanjutan jika tak ada kesepakatan damai.
>>> Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur, Kamera Saku Flagship dengan Leica
Situasi ini mendorong investor beralih ke aset aman. Mereka membatasi kepemilikan pada aset berisiko tinggi dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih stabil.
Di tengah tekanan, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan industri kecerdasan buatan (AI). Sektor ini sebelumnya menjadi motor kenaikan saham teknologi.
Analis HSBC Qianhai Securities menyebut proyeksi belanja modal penyedia layanan cloud masih kuat. Hal ini diperkirakan menjaga permintaan perangkat keras AI.
Meski prospek jangka panjang positif, analis menyarankan diversifikasi portofolio antara saham AI dan sektor riil pada paruh kedua tahun ini.
Faktor lain yang menekan sentimen adalah data inflasi AS Mei 2026 yang menunjukkan lonjakan harga tercepat dalam tiga tahun.
Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah diprediksi membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
>>> Penjualan Mobil Astra International Naik 12 Persen pada Mei 2026
Pelaku pasar kini menanti rilis data kredit domestik China untuk Mei 2026. Data ini menjadi acuan kesehatan ekonomi, menyusul kontraksi tak terduga pada penyaluran kredit yuan bulan April.
Update Terbaru
Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz Usai Tabrak Ranjau Laut
Minggu / 26-07-2026, 22:00 WIB
Ayu Ting Ting Sukses Goyang Penonton dengan Alamat Palsu
Minggu / 26-07-2026, 22:00 WIB
GROTESQQQUE Jadi 'Makanan Penutup' Sutradara Berkat Kebebasan Kreatif dari CloverWorks
Minggu / 26-07-2026, 22:00 WIB
Capcom Sebut Remake Resident Evil Sama Pentingnya dengan Game Utama
Minggu / 26-07-2026, 22:00 WIB
Pratu Galuh Gugur dalam Operasi Pengejaran Bandar Narkoba di Bireuen
Minggu / 26-07-2026, 21:59 WIB
Perbandingan One Piece dan Naruto: 16 Alasan Penggemar Tak Sepakat
Minggu / 26-07-2026, 21:57 WIB
Miyamoto: Gamer Kini Pilih Pengalaman Unik, Bukan Sekadar Spesifikasi Konsol
Minggu / 26-07-2026, 21:56 WIB
Kreator Dragon Striker Ungkap Sihir Ada di Luar Lapangan, Siap Jelaskan Misteri Masa Depan
Minggu / 26-07-2026, 21:56 WIB
The East Palace Raih 4,9 Juta Tayangan dalam Dua Hari Pertama di Netflix
Minggu / 26-07-2026, 21:56 WIB
Pelatih Port FC Soroti Gagal Penalti Meski Timnya Kalahkan PSMS
Minggu / 26-07-2026, 21:49 WIB
Galaxy A57 dan A27 Mulai Terima Patch Keamanan Juli 2026
Minggu / 26-07-2026, 21:49 WIB
Flavor Shake-Up Wingstop: Paket 3-in-1 Praktis dengan Rasa dari Gurih hingga Pedas
Minggu / 26-07-2026, 21:42 WIB
Ugreen Rilis Pelacak Dompet FineTrack Slim Duo 2 dengan Dukungan Apple dan Android
Minggu / 26-07-2026, 21:42 WIB
Punggung Herdman Dipijat Staf Jelang Lawan Kamboja
Minggu / 26-07-2026, 21:35 WIB







