Perusahaan dengan kandungan lokal tinggi atau yang berorientasi ekspor dinilai lebih aman karena memiliki perlindungan alami, berbeda dengan industri berorientasi domestik yang mayoritas bahan bakunya impor.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini pada akhirnya membuat banyak pelaku usaha memilih untuk menahan diri dalam melakukan ekspansi bisnis.

"Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati," jelas Shinta.

Menurutnya, banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil.

Apindo mengharapkan adanya langkah nyata dari pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta menekan biaya ekonomi domestik.

"Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing.

>>> DBS Group Rilis Token Emas Fisik untuk Nasabah Ritel di Singapura

Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri," tutup Shinta.