Harga minyak dunia kembali mencatat lonjakan signifikan setelah militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara terbaru ke wilayah Iran.

Langkah agresif ini dinilai semakin menekan gencatan senjata yang sudah rapuh dan mengancam stabilitas pasar keuangan global.

>>> Kemenkeu Cekal Tyo Nugros Terkait Pengurusan Piutang Negara

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melesat hingga 2,7% ke posisi US$92,45 per barel.

Pada sesi sebelumnya, komoditas tersebut ditutup menguat lebih dari 2%, sementara minyak jenis Brent menetap di kisaran US$93 per barel.

Serangan Balasan dan Ancaman Selat Hormuz

Pihak militer AS menyatakan telah menggempur sejumlah target selama dua hari berturut-turut.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump menuduh Iran sengaja mengulur waktu dalam negosiasi kesepakatan damai interim, sementara Teheran menegaskan akan berdiri kokoh melawan segala bentuk ancaman.

Aksi militer terbaru Washington merupakan balasan atas jatuhnya helikopter militer AS di lepas pantai Oman pada hari Selasa sebelumnya.

Eskalasi ini membawa risiko perpanjangan penutupan total Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.

"Beberapa hari ke depan akan menjadi fase kritis untuk menentukan apakah jalur diplomasi dapat kembali ditegakkan, atau justru konflik ini masuk ke dalam siklus eskalasi yang lebih berkepanjangan," ujar Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.

"Volatilitas harga minyak kemungkinan besar akan tetap tinggi sampai ada bukti yang lebih jelas bahwa gencatan senjata dapat dipertahankan," tambahnya.

>>> Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka meluncurkan serangan membela diri tambahan sebagai respons atas agresi Iran yang terus berlanjut.