Bank Indonesia mencatat kewajiban neto investasi internasional Indonesia turun signifikan pada kuartal I/2026.

Posisi tersebut mencapai US$227,6 miliar, menyusut US$45,8 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$273,4 miliar.

>>> Pemerintah Siapkan Pelatihan Militer bagi Pengelola Koperasi Merah Putih

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri yang lebih dalam dibandingkan penurunan Aset Finansial Luar Negeri.

Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang mempengaruhi penurunan kedua komponen tersebut.

Nilai AFLN pada kuartal I/2026 tercatat US$556,7 miliar, turun tipis 0,4% secara kuartalan dari US$559,1 miliar.

Penurunan ini juga dipengaruhi oleh pelemahan harga aset dan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara penempatan aset.

Sementara itu, KFLN Indonesia merosot 5,8% menjadi US$784,3 miliar dari sebelumnya US$832,6 miliar.

>>> Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Mahasiswa HMI Demo di Cikini

Meski turun tajam, aliran investasi langsung dan portofolio dari modal asing dinilai masih terjaga.

Bank sentral menilai koreksi KFLN dipicu oleh penurunan nilai instrumen keuangan dalam negeri, namun investasi langsung tetap surplus.

Posisi investasi portofolio dan lainnya menurun seiring pembayaran surat utang swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.

Rasio PII terhadap PDB turun ke level 15,5% dari sebelumnya 18,9%, menunjukkan ketahanan eksternal masih aman.

Struktur kewajiban PII didominasi instrumen jangka panjang dengan porsi 92,5%, terutama penanaman modal langsung.

>>> Maybank Sekuritas Prediksi BI Rate Naik ke Level 6 Persen Akhir 2026

Bank Indonesia berkomitmen memperkuat bauran kebijakan bersama pemerintah untuk mengantisipasi risiko global.