Konflik AS-Iran Memanas, Pasar Saham Global Tertekan
Pasar keuangan global kembali tertekan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Kekhawatiran investor meluas, diperparah dengan antisipasi rilis data inflasi AS.
Indeks saham utama Eropa melemah setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan membayar harga atas penundaan negosiasi.
>>> Freeport Indonesia Targetkan Smelter Manyar Beroperasi Kuartal III-2026
Indeks STOXX 600 turun 0,6 persen setelah sempat stabil.
Kontrak berjangka saham AS juga turun 1 hingga 1,2 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah Eropa meningkat seiring pernyataan Trump.
Serangan Balasan Iran dan Dampaknya
Garda Revolusi Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Aksi ini merupakan balasan atas serangan AS terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Konflik ini menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata April lalu. Analis Kepler Unigestion, Fleura Shiyanova, menilai risiko geopolitik masih ada namun lebih dipahami pasar.
"Risikonya masih berlangsung, meski lebih rendah. Pertanyaannya sekarang adalah berapa lama situasi ini akan berlangsung," ujar Shiyanova.
Pelemahan di Asia dan Kenaikan Minyak
Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 2,3 persen.
Indeks KOSPI Korea Selatan turun tajam 4,5 persen akibat tekanan pada saham teknologi dan AI.
>>> Airtel Ganti Nama 'Priority Postpaid' Jadi 'Fast Lane'
Harga minyak dunia merespons terbatas, kemudian menguat.
Minyak Brent naik 1,7 persen menjadi US$ 92,88 per barel, sementara WTI menguat 1,5 persen ke US$ 89,56.
Saham AS terkoreksi setelah reli teknologi kehilangan momentum. Indeks volatilitas VIX menyentuh level tertinggi sejak 7 April.
Investor kini menanti data inflasi AS yang diperkirakan naik menjadi 4,2 persen secara tahunan pada Mei. Data ketenagakerjaan yang kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Pasar telah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Desember. Kepala Strategi Investasi Saxo, Charu Chanana, mengatakan inflasi tinggi akan mempersulit The Fed bersikap dovish.
Di pasar valas, indeks dolar AS turun tipis 0,1 persen ke 99,92.
Euro berada di US$ 1,155, poundsterling stabil di US$ 1,338, dan yen di 160,36 per dolar AS.
Bank Sentral Eropa memulai pertemuan kebijakan dua hari dan diperkirakan menaikkan suku bunga 25 basis poin.
>>> Psikolog Ungkap Kebiasaan Nomor 1 yang Dimiliki Orang Super Cerdas
Di Jepang, inflasi harga grosir Mei menjadi yang tercepat dalam tiga tahun, memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga BOJ.
Update Terbaru
Timnas Indonesia Tekuk Mozambik 1-0 di GBK, Marselino Kembali Tampil
Rabu / 10-06-2026, 21:25 WIB
Indeks LQ45 Menguat 3,54% di Tengah Aksi Jual Asing
Rabu / 10-06-2026, 21:25 WIB
Cara Mengaktifkan Shopee SPayLater 2026 dan Syarat Pengajuannya
Rabu / 10-06-2026, 21:25 WIB
Huawei Kembangkan Ponsel Candybar Berlayar Lebar untuk Dobrak Pasar
Rabu / 10-06-2026, 21:25 WIB
Dewan Ekonomi Nasional Bantah Wacana Bansos Baru Rp5,4 Juta
Rabu / 10-06-2026, 21:21 WIB
Prabowo Subianto Jawab Kritik Terkait Seringnya Kunjungan ke Luar Negeri
Rabu / 10-06-2026, 21:21 WIB
Pekerja Temukan Kepingan Emas Elektrum di Candi Losari Magelang
Rabu / 10-06-2026, 21:21 WIB
Ketajaman Ole Romeny Kembali Bersama Timnas Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 21:16 WIB
John Herdman Hadapi Dilema Pilih Kiper Utama Timnas Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 21:16 WIB
Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0 di SUGBK
Rabu / 10-06-2026, 21:16 WIB
Agibot Ekspansi ke Indonesia, Gandeng Denka Pratama Sediakan Robot Humanoid
Rabu / 10-06-2026, 21:13 WIB
PSSI Kecam Aksi Perundungan terhadap Beckham Putra di GBK
Rabu / 10-06-2026, 21:12 WIB
John Herdman Ungkap Perbedaan Peran Marselino Ferdinan dan Beckham Putra
Rabu / 10-06-2026, 21:12 WIB
Saddil Ramdani Ungkap Kebahagiaan Kembali Perkuat Timnas Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 21:12 WIB






