Tekanan terhadap produsen semen domestik diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin hingga 5,50% diproyeksikan memukul pasar semen nasional.

>>> Cari HP 1 Jutaan untuk Aktivitas Harian? Ini 4 Pilihan yang Layak Dipertimbangkan pada 2026

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai emiten semen kini terpapar efek domino yang berlapis dan kumulatif dari kenaikan suku bunga tersebut.

Lonjakan bunga acuan akan memperberat beban Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masyarakat, sehingga langsung menekan permintaan sektor properti sebagai pasar terbesar semen.

Kondisi ini menambah panjang daftar tantangan struktural yang dihadapi industri semen.

Tantangan tersebut meliputi kelebihan kapasitas produksi dengan utilisasi pabrik hanya berkisar 54%-56%, tingginya harga energi akibat gangguan pasokan batubara, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu kenaikan biaya impor bahan baku dan suku cadang.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, juga berpendapat serupa.

Kenaikan suku bunga acuan memicu tekanan besar bagi emiten semen karena beban KPR semakin mahal dan pengembang menunda ekspansi.

Sektor ini juga terbebani mahalnya biaya energi yang menghabiskan 35%–40% dari total Harga Pokok Penjualan (HPP). Kenaikan harga BBM nonsubsidi secara tidak langsung menyulitkan proses distribusi semen.

Sentimen Positif dari Program Pemerintah

Di tengah tekanan, Abida melihat program pembangunan tiga juta rumah oleh pemerintah dapat menjadi sentimen positif. Program tersebut membutuhkan tambahan konsumsi semen hingga lebih dari 7 juta ton.

>>> PT Multi Nabati Asahan Perkuat Ekonomi Nelayan Terate Banten

Emiten semen juga berpotensi meraup manfaat dari proyek infrastruktur Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang tidak sensitif terhadap fluktuasi suku bunga.