Pasar otomotif roda empat Indonesia mengalami kelesuan pada Mei 2026. Penyebab utamanya adalah penundaan insentif kendaraan listrik dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kondisi ini membuat calon konsumen memilih bersikap wait and see. Mereka menunda pembelian demi mendapatkan harga terbaik.

>>> Rupiah Menguat ke Rp 17.944 per Dolar AS Usai BI Naikkan Suku Bunga

Data distribusi dari pabrik ke dealer (wholesales) mencatat penurunan 14,3 persen dibanding April.

Total distribusi hanya mencapai 69.219 unit, turun dari 80.779 unit pada bulan sebelumnya.

Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga terkoreksi minus 5,1 persen. Capaiannya menjadi 71.890 unit.

Akumulasi Tahunan Masih Positif

Meski bulan Mei menurun, secara akumulatif Januari-Mei 2026 masih menunjukkan tren positif.

>>> Airlangga Siapkan Stimulus untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Retail sales naik 8,8 persen menjadi 359.490 unit, sementara wholesales melesat 12,8 persen ke angka 359.015 unit.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, menyebut ketidakpastian regulasi sebagai pemicu utama. "Iya kan soal insentif yang ditunda, melemahnya rupiah, dan lain-lain," ujarnya.

Pemerintah sebelumnya berencana memberikan insentif untuk mobil dan motor listrik mulai Juni 2026. Namun, jadwal eksekusi kembali mundur.

>>> Pemprov DKI Kaji Penyesuaian Tarif Bus Transjabodetabek Rute Blok M-Bandara

Menteri Keuangan Purbaya pada Selasa (26/5) memastikan insentif EV ditunda satu bulan lagi. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar otomotif domestik.