AS Masukkan BYD dan Perusahaan China ke Daftar Hitam karena Tuduhan Dukung Militer
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memasukkan produsen otomotif BYD dan sejumlah korporasi besar China ke dalam daftar hitam (blacklist).
Pemerintah AS menuduh perusahaan-perusahaan tersebut memberikan dukungan kepada militer China dan mengancam keamanan nasional mereka.
>>> Bapanas Ajukan Anggaran Rp17,84 Triliun untuk Program Pangan 2027
Kebijakan ini tidak hanya menyasar BYD, melainkan juga entitas besar lain yang tercantum dalam dokumen berjudul "Entitas yang Diidentifikasi sebagai Perusahaan Militer China yang Beroperasi di Amerika Serikat" yang telah diperbarui.
Nama-nama seperti Alibaba, Baidu, produsen baterai EVE Energy, serta produsen lidar Hesai dan Robosense yang disokong BYD turut masuk dalam daftar tersebut.
Dokumen dari Pentagon ini juga mencantumkan perusahaan farmasi WuXi AppTec, produsen perangkat jaringan TP-Link, hingga perusahaan rintisan di bidang robotika Unitree.
Dalam laporan tersebut, BYD dinyatakan memiliki afiliasi langsung maupun tidak langsung dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC) China serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT).
>>> KAI Luncurkan Space by KAI, Platform Digital untuk Sewakan Aset
"BYD merupakan kontributor fusi militer-sipil terhadap basis industri pertahanan China karena berafiliasi dengan MIIT dan karena berlokasi di atau berafiliasi dengan zona perusahaan fusi militer-sipil," demikian dikutip dari dokumen Departemen Pertahanan AS.
Bantahan BYD
Menanggapi tuduhan tersebut, manajemen BYD memberikan klarifikasi resmi melalui dokumen yang diserahkan ke Bursa Efek Hong Kong pada Selasa (9/6/2026).
Raksasa otomotif yang berpusat di Shenzhen ini membantah keras tudingan sebagai bagian dari korporasi militer maupun kontributor fusi militer-sipil bagi pertahanan China.
Pihak BYD juga menjelaskan dampak operasional dari status baru mereka dalam daftar milik pemerintah AS.
>>> Hisense Gandeng Sonovision Perluas Jaringan Ritel di India Selatan
Mereka menekankan bahwa pengumuman dari Departemen Pertahanan AS yang diterbitkan pada 8 Juni 2026 waktu setempat bukanlah bentuk sanksi bisnis langsung.
Update Terbaru
Harga BBM Nonsubsidi Pertamina dan Swasta Kompak Naik per 10 Juni 2026
Rabu / 10-06-2026, 18:16 WIB
BPOM Siapkan Relaksasi Regulasi untuk Jaga Stabilitas Harga Obat
Rabu / 10-06-2026, 18:16 WIB
Tim Medis Kloter PLM 12 Evaluasi Kesehatan Jemaah Haji di Madinah
Rabu / 10-06-2026, 18:16 WIB
Tiket BTS Jakarta 2026 Dijual Ulang hingga Tiga Kali Lipat Setelah Presale Ludes
Rabu / 10-06-2026, 18:14 WIB
Liga Inggris Musim Ini Selesai dengan Arsenal Juara, Agenda Beralih ke Laga Timnas
Rabu / 10-06-2026, 18:10 WIB
Cara Mudah Reset Laptop Windows 11 dan 10 ke Setelan Pabrik
Rabu / 10-06-2026, 18:10 WIB
Harga Pertamax Naik Juni 2026, Ini Biaya Full Tank Raize hingga Rush
Rabu / 10-06-2026, 18:09 WIB
Astra Fokus pada Tiga Bisnis Inti dan Siapkan Buyback Rp 8 Triliun
Rabu / 10-06-2026, 18:09 WIB
AS dan China Bersaing Cari Air di Bulan, Misi Chang'e-7 Lebih Dulu
Rabu / 10-06-2026, 18:09 WIB
Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Biaya Full Tank LSUV
Rabu / 10-06-2026, 18:09 WIB
Kenaikan Harga Pertamax Picu Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli
Rabu / 10-06-2026, 18:09 WIB
HP di Bawah Rp5 Jutaan untuk Kreator TikTok, Tiga Pilihan Ini Patut Masuk Daftar
Rabu / 10-06-2026, 18:05 WIB
Acer Luncurkan Swift Spin 14 AI dan Aspire Go 15 di Computex 2026
Rabu / 10-06-2026, 18:05 WIB
Boreham Ford Escort RS: Mobil Baru dengan Mesin 10.000 RPM Seharga Rp6 Miliar
Rabu / 10-06-2026, 18:05 WIB






