Pemerintah Malaysia tengah berupaya menemukan alternatif sumber bahan bakar baru untuk mengantisipasi ancaman kelangkaan energi global. Langkah ini dipicu oleh konflik bersenjata yang pecah di Iran.

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasir, pada Rabu (10/6/2026) menegaskan bahwa pencarian alternatif tidak boleh dilakukan sembarangan.

>>> MKTR Targetkan Pendapatan Rp1,39 Triliun pada 2026

Komoditas yang dibeli harus disesuaikan secara teknis dengan kapasitas dan kemampuan pemrosesan fasilitas kilang dalam negeri.

Operasional kilang di Malaysia selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

Pemblokiran Selat Hormuz sebagai jalur logistik krusial dunia telah memaksa sejumlah kilang memangkas volume produksi akibat kelangkaan material mentah.

"Bukan sekadar mencari pasokan dari mana saja, tetapi apakah pasokan tersebut cocok dengan fasilitas yang kita miliki," ujar Akmal kepada wartawan.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen untuk Stabilkan Rupiah

Sebagai langkah antisipasi, otoritas Malaysia membuka peluang mendatangkan minyak mentah dari beberapa wilayah alternatif. Pemerintah sedang mengkaji opsi pembelian dari negara-negara di Afrika, Rusia, hingga Turki.

Akmal memastikan pemenuhan kebutuhan energi domestik masih dalam batas aman untuk jangka pendek. Berdasarkan kontrak pengadaan yang berjalan, cadangan energi nasional diproyeksikan mampu bertahan hingga akhir Juli mendatang.

Kendati demikian, pemerintah setempat bersikap waspada dan enggan terburu-buru mengikat kontrak baru jangka panjang.

>>> Jadwal Semifinal Piala AFF U19 2026: Indonesia vs Australia

Kebijakan ini diambil untuk menghindari kerugian di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang masih tinggi.