Investor legendaris Michael Burry kembali memberikan peringatan keras kepada pasar keuangan.

Pada 24 Juli 2026, ia menyatakan bahwa kondisi pasar saham saat ini dan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) sangat mirip dengan lingkungan spekulatif yang terjadi pada bulan-bulan terakhir gelembung dot-com pada 1999 dan 2000.

>>> Noah Kahan Bawa Tur Stadion ke North Carolina Usai Debut Chart

Burry menyoroti valuasi pasar yang ekstrem, konsentrasi besar pada saham teknologi berkapitalisasi besar, serta ledakan pembiayaan utang perusahaan untuk infrastruktur AI.

Ia mendesak para pelaku pasar untuk memantau obligasi Treasury jangka panjang, seraya menunjuk pada kenaikan harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel dan volatilitas inflasi yang meningkat sebagai risiko sistemik yang saling memperkuat.

Data menunjukkan imbal hasil Treasury AS 30 tahun telah diperdagangkan di atas 5 persen selama 27 hari pada 2026.

Sebagai perbandingan, angka tersebut hanya enam hari pada 2025 dan tujuh hari pada 2023.

Periode terpanjang sebelumnya terjadi pada 2007 menjelang krisis keuangan global, ketika imbal hasil bertahan di atas 5 persen selama 50 hari perdagangan.

Perusahaan teknologi terus meminjam dalam jumlah besar untuk mendanai pusat data, semikonduktor, dan infrastruktur listrik. Oracle Corp.

menjadi contoh menonjol di pasar ekuitas di mana ekspansi yang didanai utang langsung mengalir ke pasar kredit.

Sementara itu, dana jangka panjang seperti iShares 20+ Year Treasury Bond ETF tetap rentan terhadap tekanan imbal hasil yang berkepanjangan.

Sektor ekuitas swasta dan kredit swasta yang berkembang pesat selama era suku bunga rendah kini menghadapi potensi tekanan saat biaya pinjaman naik.

Leverage dalam perdagangan basis Treasury tunai-berjangka juga telah menurun, dari sekitar 1,3 triliun dolar AS menjadi 1 triliun dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.