Pemerintah bersama Komisi XI DPR RI tengah merumuskan sejumlah stimulus ekonomi untuk memitigasi dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Langkah ini diambil setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, efektif Rabu (10/6/2026).

>>> Aturan dan Jadwal Pendaftaran SPMB SD Bogor 2026/2027 Resmi Dibuka

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengakui penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini berpotensi memicu lonjakan inflasi nasional, meskipun kalkulasi detail masih dikaji.

"Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi. Berapa persennya, nol koma sekiannya itu kita belum tahu," ujar Misbakhun.

Ia menambahkan bahwa Pertamax bukan bahan bakar yang digunakan sektor industri, sehingga efek terhadap inflasi diperkirakan tidak terlalu signifikan.

Namun, politisi Golkar itu tidak menampik kemungkinan masyarakat beralih ke BBM lebih murah seperti Pertalite.

"Pasti, orang kan begitu harga naik mencari harga yang paling rendah. Untuk kalkulasinya belum kita lakukan eksersis lebih dalam," kata Misbakhun.

Parlemen bersama otoritas fiskal mulai memetakan ruang insentif yang difokuskan bagi masyarakat kelas menengah yang berada tepat di atas batas konsumen BBM bersubsidi.

>>> Rupiah Menguat ke Rp17.953 per Dolar AS Imbas Kenaikan Suku Bunga BI

"Sudah didiskusikan, sedang dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor. Yang pasti masyarakat yang menggunakan Pertamax itu berimpitan dengan pengguna Pertalite," tutur Misbakhun.

Di sisi lain, Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga telah dikoordinasikan dengan pemerintah melalui evaluasi berkala mengacu pada pergerakan harga minyak dunia.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.

Roberth menegaskan tata kelola energi ini penting untuk menjaga keseimbangan operasional perusahaan, kualitas pelayanan, dan jaminan pasokan energi nasional.

Untuk meminimalkan beban masyarakat, pemerintah bersama Pertamina sepakat mempertahankan harga BBM penugasan dan subsidi: Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

>>> BYD Targetkan Jadi Produsen Mobil Terbesar Dunia dalam Lima Tahun

Pertamina juga mengumumkan tidak ada perubahan harga untuk produk nonsubsidi lain: Pertamax Turbo Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.