Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mata uang domestik ditutup menguat 0,6% ke level Rp17.953 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.

>>> BYD Targetkan Jadi Produsen Mobil Terbesar Dunia dalam Lima Tahun

Langkah di luar jadwal rapat reguler itu langsung direspons positif pasar.

Sentimen positif tidak hanya terlihat di pasar valuta asing, tetapi juga di pasar Surat Utang Negara (SUN).

Pasar SUN mencatat aksi beli besar yang memicu penurunan yield di hampir seluruh tenor.

Meski menguat, apresiasi rupiah dinilai belum menjadi indikator berakhirnya tekanan. Situasi saat ini lebih merupakan pemulihan sentimen jangka pendek.

Pasar melihat sinyal positif bahwa BI bersedia bertindak agresif menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini juga meredakan sentimen negatif terkait independensi bank sentral yang sempat mencuat.

>>> BI Optimistis Rupiah Menguat ke Rp16.800 pada 2027

Beberapa analis menilai kenaikan 25 bps belum cukup kuat.

Ekonom UOB, Enrico Tanuwijaya dan Vincentius Ming Shen, memperkirakan BI perlu menaikkan suku bunga 50 bps lagi pada rapat 18 Juni mendatang.

Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, bahkan memperkirakan kenaikan 75 bps diperlukan untuk memperlambat depresiasi rupiah. Namun, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, memiliki pandangan berbeda.

Menurut Lionel, BI berpotensi mempertahankan suku bunga di 5,5% jika intervensi Kementerian Keuangan dan BI di pasar surat utang mampu meredam volatilitas.

>>> Fisik Pemain Diaspora Timnas Indonesia Dianggap Makin Tangguh

Selain itu, rupiah harus terjaga di rentang Rp17.500–Rp17.900 per dolar AS hingga RDG mendatang.