Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan menguat ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun 2027.

Pernyataan itu disampaikan dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/6/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

>>> Fisik Pemain Diaspora Timnas Indonesia Dianggap Makin Tangguh

Target tersebut sejalan dengan asumsi kurs dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

Perry menjelaskan, penguatan rupiah didorong oleh lima faktor utama.

Lima Faktor Penguatan Rupiah

Faktor pertama adalah pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan BI mencapai 3,1% pada 2027, yang diharapkan memicu aliran modal masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Faktor kedua adalah fundamental domestik yang kuat, seperti pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,61%, inflasi terkendali, defisit transaksi berjalan rendah, imbal hasil investasi menarik, dan cadangan devisa memadai.

>>> Pendaki Wanita Alami Pelecehan Seksual oleh Pemandu di Gunung Merbabu

Faktor ketiga berasal dari peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang mengoptimalkan pengelolaan ekspor untuk meningkatkan devisa hasil ekspor (DHE) dan memperkuat cadangan devisa.

Faktor keempat adalah intensifikasi operasi moneter rupiah melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dua kali sepekan, serta operasi valas melalui intervensi pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri.

Faktor kelima adalah sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga likuiditas sistem keuangan.

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah dibuka menguat 0,79% ke posisi Rp17.918/US$, kemudian bergerak ke level Rp17.949/US$ pada pukul 09:12 WIB, merespons kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin ke 5,5%.

>>> Borneo FC Samarinda Lepas 15 Pemain, Termasuk Bintang Liga Mariano Peralta

Perry optimistis bahwa dengan kelima faktor tersebut, rupiah akan menguat pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun depan.