Kecelakaan kereta di Bekasi Timur belum lama ini masih membekas di benak masyarakat.

Peristiwa yang menelan banyak korban jiwa itu tidak hanya menyita perhatian dan empati, tetapi juga kembali menyoroti standar keselamatan transportasi di Indonesia yang dinilai belum optimal.

>>> Timor Leste Segel Tiket Terakhir Grup A ASEAN Championship 2026

Meski investigasi belum rampung, pola persoalan mulai terlihat. Tragedi Bekasi Timur bukan akibat satu kesalahan, melainkan kegagalan berlapis yang seharusnya bisa dicegah.

Dewan Penasihat MTI Djoko Setijowarno menilai kondisi ini mencerminkan belum adanya perbaikan signifikan dalam keselamatan transportasi jalan di Indonesia, yang justru menunjukkan tren peningkatan kecelakaan.

"Jadi sampai saat ini perkembangan positif untuk keselamatan transportasi jalan nampaknya belum ada. Justru, pelan-pelan terjadi peningkatan," ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Menurut Djoko, pendekatan keselamatan harus dibangun melalui tiga aspek sekaligus: education, engineering, dan enforcement. Namun di Indonesia, sistem justru bergerak setelah insiden, bukan sebelumnya.

"Pencegahan lebih murah daripada penanganan setelah kecelakaan," tegasnya.

Yang memprihatinkan, rata-rata lebih dari 100 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan di Indonesia, terutama di jalan raya.

Angka itu merupakan akumulasi kecelakaan harian yang kerap luput dari perhatian.

"Ya, negara ini masih abai terhadap keselamatan transportasi jalan," ujar Djoko.

Tantangan semakin kompleks ketika standar keselamatan belum sepenuhnya mengimbangi tingginya ketergantungan masyarakat pada transportasi harian.

Data BPS menunjukkan ratusan ribu penumpang menggunakan kereta api setiap hari sepanjang 2025.

>>> Vin Diesel Sebut Groot Jadi Aset Paling Berharga Milik Disney

Sementara itu, lebih dari 300 ribu armada bus beroperasi di jalan raya, dan 145 juta sepeda motor masih mendominasi pergerakan masyarakat.