Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan segala sesuatu yang ada di dalamnya."

Doa ini mendidik Muslim untuk memiliki kepedulian sosial yang luas.

Imam An-Nawawi juga mencantumkan doa untuk memohon ketenteraman hidup: "Allāhummaj‘al lanā bihā qarāran wa rizqan ḥasanā.

>>> Kemensos Salurkan Bansos PKH 2026 untuk Keluarga Miskin

Allāhummarzuqnā janāhā wa a‘idznā min wabālihā wa ḥabbibnā ilā ahlihā wa ḥabbib ṣāliḥī ahlihā ilainā."

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah bagi kami di tempat ini kehidupan yang tenteram dan rezeki yang baik.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami manfaatnya, lindungilah kami dari keburukan yang ada di dalamnya, jadikanlah kami dicintai oleh penduduknya dan jadikanlah orang-orang saleh dari penduduknya mencintai kami."

Saat melangkah masuk rumah, jamaah dianjurkan membaca: "Tauban tauban li rabbinā auban lā yughādiru ḥaubā."

Artinya: "Wahai Tuhan kami, kami bertobat kepada-Mu dengan sebenar-benarnya tobat, kembali kepada-Mu dengan sepenuh hati, suatu kembali yang tidak menyisakan dosa sedikit pun."

Doa ini berfungsi sebagai pengingat bahwa bukti kemabruran haji diuji saat sudah berada di rumah.

Awal Perjuangan Spiritual yang Nyata

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa indikator diterimanya ibadah tercermin dari perubahan perilaku positif.

Tanda haji mabrur terlihat dari perbaikan akhlak, peningkatan ibadah, kelembutan hati, dan kepekaan sosial.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuh al-Ghaib menegaskan bahwa perjuangan spiritual tidak selesai saat meninggalkan Makkah. Perjuangan sesungguhnya dimulai di rumah.

Tantangan terberat adalah merawat ketenangan batin yang dirasakan di Arafah, Ka'bah, atau Raudhah agar tidak tergerus rutinitas.

Ulama menyarankan melanggengkan kebiasaan baik seperti berdzikir, membaca Al-Qur'an, salat berjamaah, dan bersedekah.

>>> Venezuela Bawa Rekor Sempurna Lawan Tim Asia Arab ke Laga Kontra Irak

Haji mabrur adalah tentang membawa cahaya kesucian Makkah ke dalam keseharian.