Arezoo menganggap sepedanya sebagai "rumah kedua". Meski tangguh, ia mengaku rindu keluarga, terutama pelukan ibunya.

Situasi mencekam terjadi ketika komunikasi ke Iran terputus saat negaranya mendapat gempuran militer. "Itu momen sulit karena saya sendirian.

Sekarang komunikasi sudah lancar," ujarnya.

Keputusan melakukan ekspedisi solo sempat dipertanyakan karena ia berasal dari keluarga tradisional. Butuh waktu 10 tahun untuk meyakinkan orang tuanya.

"Keberanian saya adalah hasil proses bertahun-tahun. Izin orang tua sudah saya rintis selama 10 tahun," kata Arezoo.

Kemampuan fisiknya terbentuk dari hobi mendaki gunung dan bersepeda di Iran.

Mantan pekerja swasta ini mengundurkan diri dan menjual mobil untuk mendanai perjalanan, sambil mencari dukungan di setiap kota.

"Pesan saya kepada perempuan di seluruh dunia, khususnya Indonesia, jangan takut bermimpi. Mulailah dari perjalanan satu atau dua hari, tidak perlu langsung jauh," pesannya.

Setelah Indonesia, Arezoo akan melanjutkan ke India. Negara itu dipilih berdasarkan riset dan diskusi dengan sesama pesepeda.

>>> Cara Meningkatkan Limit DANA Cicil dengan Mudah dan Benar

"Saya percaya pada tujuan saya. Kepercayaan itu memberi kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan," pungkas Arezoo.