Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia terkerek naik sekitar 1 persen.

>>> IHSG Melonjak 7,57 Persen Setelah Terpuruk Empat Hari

Fenomena ini mempertebal kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan bertahan dalam periode yang lebih lama, sehingga memaksa The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Berdasarkan data dari CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini melihat adanya peluang di atas 70 persen bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan mereka sebelum pergantian tahun.

Walaupun emas sering kali dijadikan instrumen pelindung nilai (hedging) saat inflasi tinggi, kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif.

Hal ini karena emas merupakan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset).

Kini perhatian investor tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini.

Data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Mei dijadwalkan meluncur pada Rabu waktu setempat, disusul data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (11/6).

Di sisi lain, pasar komoditas emas juga menghadapi hambatan regulasi dari India. Kebijakan kenaikan tarif impor emas yang cukup signifikan di negara tersebut memicu lonjakan kasus penyelundupan ilegal.

Total volume penyelundupan emas ke India diproyeksikan bisa menembus angka 100 metrik ton pada tahun ini. Hal tersebut didorong oleh besarnya margin keuntungan yang ditawarkan di pasar gelap.

Tren penurunan ini turut menyeret performa logam mulia lainnya.

Harga perak di pasar spot tercatat melemah 1,4 persen ke posisi US$ 64,48 per ons troi.

Sementara itu, harga platinum juga mengalami penurunan sebesar 1,5 persen ke level US$ 1.700,38 per ons troi.

>>> Kalahkan Mozambik, Ranking FIFA Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118

Komoditas paladium ikut terkoreksi 0,8 persen menjadi US$ 1.212,67 per ons troi.