Harga emas di pasar global kembali mengalami tekanan besar pada sesi perdagangan Rabu (10/6/2026). Komoditas ini mencatatkan penurunan nilai hingga lebih dari 1 persen.

Kondisi tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi ini terjadi setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.

>>> BRI Dukung Kenaikan BI Rate Jadi 5,5 Persen untuk Jaga Stabilitas

Situasi tersebut memicu kecemasan di kalangan pelaku pasar terhadap potensi lonjakan inflasi yang lebih tinggi.

Dampaknya, bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

Harga emas di pasar spot merosot 1,4 persen ke angka US$ 4.203,20 per ons troi pada pukul 00.50 GMT.

Logam mulia ini bahkan sempat menyentuh titik terendahnya sejak 23 Maret 2026 pada perdagangan Selasa (9/6).

Penurunan yang sama juga membayangi kontrak berjangka emas AS untuk masa pengiriman Agustus 2026. Nilainya melemah 1,4 persen menuju level US$ 4.227 per ons troi.

Faktor lain yang memberatkan langkah emas adalah penguatan nilai tukar dolar AS.

Penguatan mata uang utama ini membuat transaksi emas yang menggunakan denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi para investor pemegang mata uang lain, sehingga menekan volume permintaan.

Sentimen negatif pasar ini berakar dari tindakan militer AS yang melancarkan gempuran ke wilayah Iran pada Selasa (9/6).

Aksi tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump mendakwa pihak Teheran telah menembak jatuh helikopter tempur Apache milik AS di kawasan Selat Hormuz.

Insiden berdarah ini memicu keraguan publik mengenai masa depan kesepakatan damai kedua belah pihak. Risiko kegagalan perjanjian gencatan senjata yang sempat disepakati sebelumnya kini meningkat tajam.