Kerokan Bukan Solusi Tepat

Banyak orang memilih kerokan saat mengalami gejala angin duduk. Namun, dr. Febtusia menjelaskan bahwa kerokan bukan pertolongan pertama yang tepat.

Sensasi nyaman setelah kerokan berasal dari efek hangat balsam yang melebarkan pembuluh darah sementara. Efek ini hanya jangka pendek, bukan jangka panjang.

Guratan merah bekas kerokan sebenarnya adalah pembuluh darah di permukaan kulit yang pecah. Ini bukan tanda bahwa kerokan memberikan efek berarti.

Jika muncul nyeri dada yang mengarah pada angina, pasien dianjurkan segera ke fasilitas kesehatan.

Penanganan dini penting karena serangan jantung idealnya ditangani dalam 90 menit pertama setelah gejala muncul.

Pengendalian Kolesterol sebagai Bagian Terapi

Penanganan angina pektoris tidak hanya meredakan nyeri, tetapi juga mencakup perubahan gaya hidup, obat anti-nyeri, terapi lipid, dan prosedur medis seperti pemasangan stent atau bypass.

Perubahan gaya hidup meliputi berhenti merokok, pola makan sehat, olahraga rutin, dan menjaga berat badan ideal. Terapi obat disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pengendalian LDL-C menjadi aspek penting karena kolesterol jahat berkontribusi pada penyempitan pembuluh darah. Target kadar LDL-C di bawah 55 mg/dL.

Statin adalah pengobatan lini pertama untuk menurunkan kolesterol. Namun, sebagian pasien sulit mencapai target hanya dengan statin tunggal.

Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan pendekatan dual-pathway dengan kombinasi statin dan ezetimibe bisa menjadi pilihan efektif.

>>> Pelatih Mozambik Puji Kekuatan Timnas Indonesia di SUGBK

Pendekatan ini bekerja menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus. Kepatuhan pasien dalam terapi jangka panjang juga menjadi tantangan.