Pengujian meliputi rendezvous dan docking, yaitu proses penempelan wahana antariksa di luar angkasa.

Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk menyempurnakan sistem dan mengurangi risiko pada misi pendaratan di Bulan.

>>> Prospek Harga Emas dan Perak Dinilai Masih Cerah

Artemis III menjadi bagian krusial dalam strategi jangka panjang NASA. Tujuannya adalah membangun kehadiran manusia berkelanjutan di Bulan sebelum melangkah ke Mars.

Kolaborasi Swasta dan Persaingan Global

Program Artemis melibatkan kolaborasi antara NASA dan perusahaan swasta.

Tiga roket akan diluncurkan secara terpisah: satu membawa kapsul Orion, dua lainnya membawa wahana pendarat dari SpaceX dan Blue Origin.

Kapsul Orion akan berlatih rendezvous dan docking dengan kedua wahana tersebut di orbit Bumi. Pengujian ini penting sebelum pendaratan manusia di permukaan Bulan.

Meski Blue Origin baru mengalami kemunduran setelah roket New Glenn meledak saat uji terbang tak berawak, NASA dan perusahaan tetap optimistis.

Pengumuman kru Artemis III juga terkait persaingan antariksa global.

China menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030, sementara AS ingin memastikan kembali ke Bulan lebih dulu melalui Artemis.

Sejumlah pejabat NASA menyebut misi Artemis sebagai upaya mempertahankan kepemimpinan AS dalam eksplorasi antariksa. Artemis III dirancang untuk mengambil risiko terukur agar kru masa depan lebih aman.

Artemis III hadir setelah keberhasilan Artemis II yang mengelilingi Bulan pada April 2026.

Misi itu menjadi tonggak pertama manusia kembali menjelajah luar orbit Bumi rendah sejak Apollo berakhir pada 1972.

>>> Harga BBM Pertamina di Jabodetabek Naik per 10 Juni 2026

Dengan kru yang resmi diperkenalkan, NASA berharap Artemis III menjadi fondasi kuat menuju pendaratan manusia di Bulan dan membuka jalan bagi misi eksplorasi lebih ambisius, termasuk ke Mars.