Midzon menjelaskan bahwa Eropa dan AS sulit bersaing dengan China dalam hal pasokan global.

>>> PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk Bagikan Dividen Rp56,47 Miliar

Industri prolintan nasional juga didorong untuk menata rantai pasok dan distribusi, menerapkan ekonomi sirkular untuk kemasan plastik, serta mendukung strategi pembangunan ekonomi.

Di sisi lain, industri perbenihan juga merasakan tekanan serupa.

Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Ayub Darmanto mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS berdampak pada benih impor.

Sejak serangan Israel-AS ke Iran pada 28 Februari 2026, harga minyak melonjak 70-100%, membuat situasi di sektor benih tidak kondusif.

Benih impor seperti kubis, sawi putih, pakcoy, dan brokoli otomatis naik harganya.

"Benih impor sudah tidak bisa ditahan lagi. Kami menjual dengan rupiah, tapi membeli dengan dolar atau euro," ujar Ayub.

Pelaku industri perbenihan saat ini memilih wait and see sambil memonitor pergerakan dolar AS. Mereka juga mendorong petani, terutama petani sayur, untuk lebih cerdas dalam memilih tanaman.

Ayub menyarankan petani tidak menanam komoditas yang harganya sedang tinggi, melainkan yang harganya sedang rendah. "Kalau harga cabai Rp100 ribu per kg, jangan ikut-ikutan menanam cabai.

Cari yang harganya murah," jelasnya.

>>> Bursa Saham AS Menguat Didorong Lonjakan Saham Teknologi

Dengan situasi ini, petani dituntut melakukan efisiensi dan menerapkan konsep tepat guna serta tepat produk agar tidak merugi saat panen.