PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) terus berupaya mempertahankan pertumbuhan keuntungan bisnis di tengah dinamika industri pinjaman daring.

Langkah ini ditempuh melalui penguatan sumber pendanaan dan seleksi ketat terhadap peminjam.

>>> Swedia Siap Buktikan Diri di Piala Dunia 2026 Meski Tren Negatif

Penyaluran kredit kepada masyarakat ditopang oleh kemitraan strategis dengan institusi keuangan.

Saat ini, Samir telah menjalin kolaborasi dengan tiga mitra perbankan, yaitu Superbank, Bank Neo Commerce (BNC), dan Bank Sahabat Sampoerna.

Direktur Utama Samir, Handy Juniandri, menyatakan bahwa pencarian investor baru menjadi prioritas untuk menopang struktur permodalan perusahaan.

"Secara general, kami mencari calon investment baru, artinya calon lender karena sumber dana ini berasal dari lender," ujarnya.

Selain itu, Samir menerapkan penyaringan ketat terhadap profil nasabah sejak awal. Hal ini dilakukan untuk memastikan pembiayaan tersalurkan kepada pihak yang memiliki kemampuan membayar.

>>> Kemenhaj Usut Dugaan Penipuan Haji yang Rugikan Jemaah Rp1,4 Miliar

Pengembalian pinjaman yang lancar dari nasabah diproyeksikan memberikan dampak positif langsung pada perolehan margin keuntungan. "Dan itu akan secara otomatis meningkatkan kita punya pertumbuhan laba," kata Handy.

Manajemen menegaskan profitabilitas perusahaan tetap berada dalam tren positif, meskipun belum memaparkan secara rinci angka pertumbuhan laba bersih saat ini.

Kombinasi antara penguatan modal eksternal dan manajemen risiko peminjam akan terus dipertahankan sebagai pilar keberlanjutan usaha.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat akumulasi laba industri pinjaman daring per April 2026 mencapai Rp0,96 triliun.

>>> Luhut: GovTech Perluas Basis Pajak Lewat Integrasi 64 Juta UMKM

Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 71,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang bernilai Rp0,56 triliun.