Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mendukung langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Menurutnya, kebijakan tersebut wajar mengingat tren kenaikan suku bunga global.

>>> Karier Anthony Martial Kian Merosot Usai Diputus Kontrak CF Monterrey

David menilai masih ada ruang untuk kenaikan lanjutan karena kondisi pasar keuangan internasional yang dinamis. "Saya pikir memang sekarang tren globalnya juga meningkat semua.

US Treasury juga naik. Jadi sebenarnya wajar kalau kita juga naik ke depan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan dan kenaikan suku bunga di luar jadwal bulanan menunjukkan stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama bank sentral.

Tekanan Geopolitik dan Inflasi Global

Situasi geopolitik di Timur Tengah yang memanas turut meningkatkan risiko inflasi global akibat potensi kenaikan harga minyak dan komoditas.

"Masih ada ruang untuk peningkatan ke depan. Karena ekspektasi inflasinya meningkat dengan harga minyak dan kondisi geopolitik," kata David.

Selain menaikkan BI Rate, BI mengumumkan lima langkah penguatan moneter, termasuk menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan memangkas biaya swap lindung nilai.

>>> BPJS Kesehatan: Rancangan Perpres Jaminan Kesehatan Berpotensi Naikkan Biaya Rp35 Triliun

BI juga membuka kembali fasilitas repo, meningkatkan frekuensi lelang SRBI, serta memperkuat intervensi di pasar valuta asing.

Langkah ini bertujuan menarik strategi carry trade investor asing agar arus modal masuk kembali ke pasar domestik.

Negara berkembang lain seperti Meksiko, India, dan Filipina menawarkan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi.

David menekankan bahwa penjagaan stabilitas nilai tukar rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada BI. Diperlukan dukungan kebijakan fiskal pemerintah yang kredibel dan koordinasi yang lebih baik antar kementerian.

"Kadang kementerian A menyampaikan satu kebijakan, besok kementerian B menyampaikan hal berbeda. Ini yang membuat pasar melihat koordinasinya belum sinkron.

Komunikasi dan koordinasi harus diperbaiki," ujarnya.

>>> Kortas Tipikor Polri Geledah Empat Lokasi Terkait Kasus Pabrik Gula

Fokus BI dalam menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global diproyeksikan menjadi nilai tambah bagi penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap komitmen otoritas makroekonomi Indonesia.