Meski total kreditnya turun, lini pembiayaan digital Bank Raya tetap tumbuh positif sebesar 33,1% yoy menjadi Rp 3,14 triliun.

Presiden Direktur Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, mengonfirmasi pencapaian ini didorong oleh sektor produktif dan konsumtif.

Sektor produktif bank tersebut didominasi oleh fasilitas kredit harian untuk transaksi agen serta pelaku retail bisnis.

Bank Raya juga memperluas ekspansi pembiayaan melalui skema supply chain pada segmen mikro serta pembiayaan channeling.

Untuk segmen konsumtif, perseroan memaksimalkan ekosistem layanan digital payroll end-to-end yang menyasar grup BRI serta produk paylater.

Ida Bagus Ketut Subagia memaparkan bahwa pembiayaan digital memang menjadi fokus utama perseroan dalam melancarkan ekspansi bisnis.

Strategi utama yang dilakukan adalah mengoptimalkan peluang dari ekosistem grup serta memperluas pasar baru.

Rencana ini diwujudkan lewat penambahan agen bank untuk produk kredit harian sekaligus menjalin kolaborasi bersama mitra-mitra strategis baru.

"Hal tersebut juga tentunya didukung melalui penguatan brand value, hybrid network distribution, juga pengembangan kapasitas sumber daya berbasis digital yang kuat," kata Ida Bagus Ketut Subagia pada paparan publik, Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menyebutkan pertumbuhan kredit mereka didukung fokus bisnis pada ritel digital dan ekosistem.

Produk paylater diakui menjadi mesin pertumbuhan utama bagi portofolio pembiayaan perseroan.

>>> Telkom dan Medco Energi Bagikan Dividen Tahun Buku 2025

"Segmen ini masih menunjukkan permintaan yang cukup baik karena didukung oleh tren digitalisasi, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, serta semakin luasnya integrasi layanan ke dalam ekosistem yang kami miliki," ujar Destya D.

Pradityo, Selasa (9/6/2026).

Allo Bank memproyeksikan ruang pertumbuhan pembiayaan masih terbuka lebar hingga akhir tahun nanti.