Manajemen memperhatikan faktor penguatan ekosistem mitra, perkembangan konsumsi rumah tangga, kebijakan suku bunga, serta kondisi likuiditas perbankan nasional.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menjelaskan penurunan kredit terjadi karena pihaknya memprioritaskan kualitas pertumbuhan.

Bank memilih lebih selektif menyalurkan pembiayaan ke segmen komersial dan fokus pada sektor ritel.

Pendekatan selektif ini akan tetap dikedepankan demi menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global.

Langkah evaluasi dan pemantauan portofolio secara berkala terus dijalankan oleh manajemen untuk mengukur dampak kondisi ekonomi terhadap kualitas aset bank.

"Kami akan memantau dan mengevaluasi secara berkala dampak dari kondisi ekonomi terhadap kualitas dari portofolio bank," kata Eri Budiono.

Analisis Risiko dan Tekanan Daya Beli Masyarakat

Ekonom Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan adanya fenomena perlambatan ekonomi rumah tangga di balik masifnya pertumbuhan kredit digital.

Lembaga keuangan kini sangat agresif membidik segmen ritel.

Agresivitas ini muncul karena penyaluran pembiayaan ke sektor korporasi maupun bisnis skala besar sedang melambat.

Berkat inovasi teknologi, hambatan administratif serta psikologis yang dahulu sering membayangi penyaluran kredit konsumsi kini semakin berkurang.

Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa masyarakat cenderung memanfaatkan pinjaman untuk mempertahankan pola konsumsi saat kenaikan upah tidak sebanding dengan biaya hidup.

Kemudahan akses kredit ini mengindikasikan tekanan nyata pada rumah tangga menengah ke bawah.

"Pertumbuhan kredit mudah akses dapat dibaca sebagai salah satu indikasi tekanan pada kelas menengah bawah," kata Yusuf Rendy Manilet.

Menurutnya, aspek yang harus diawasi bukan hanya kecepatan laju pertumbuhan, melainkan juga kualitas serta tujuan penggunaannya.

Pembiayaan untuk sektor produktif atau modal usaha memberikan dampak ekonomi yang berbeda dibandingkan pembiayaan konsumtif.