Kredit digital mencatat lonjakan pertumbuhan yang jauh lebih masif dibandingkan kredit industri perbankan konvensional.

Fenomena ini didorong oleh masyarakat menengah ke bawah yang sangat mengandalkan produk pinjaman dengan akses mudah demi memenuhi kebutuhan hidup.

>>> Pemerintah Targetkan Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4 Persen PDB

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pembiayaan industri perbankan secara umum tumbuh 9,98% secara tahunan (year-on-year) pada April 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang berada di level 9,49% yoy.

Pada periode yang sama, baki debet produk Buy Now Pay Later atau paylater perbankan melesat hingga 37,29% yoy.

Lonjakan ini mencerminkan akselerasi yang signifikan dari pertumbuhan bulan Maret 2026 yang tercatat sebesar 24,2% yoy.

Bank Digital Catat Pertumbuhan Double Digit

Kenaikan double digit juga kompak dibukukan oleh sejumlah bank digital hingga April 2026.

Krom Bank memimpin dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 93,05% yoy menjadi Rp 10,25 triliun, disusul Superbank yang tumbuh 55,45% yoy menjadi Rp 12,24 triliun.

Selanjutnya, penyaluran pembiayaan Seabank melonjak 46,33% yoy menjadi Rp 36,16 triliun.

Kinerja positif ini diikuti oleh Bank Jago dengan kenaikan 24,68% yoy menjadi Rp 25,35 triliun, serta Allo Bank yang tumbuh 24,6% yoy menjadi Rp 8,72 triliun.

Amar Bank turut mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 23,58% yoy dengan nilai Rp 4,2 triliun.

Namun, tren berbeda ditunjukkan oleh Bank Neo Commerce yang mengalami penurunan pembiayaan sebesar 17,99% yoy menjadi Rp 6,96 triliun pada periode ini.

Penurunan kinerja pembiayaan juga terjadi pada BCA Digital sebesar 5,26% yoy menjadi Rp 8,49 triliun.

Selain itu, total penyaluran kredit Bank Raya terkoreksi sebesar 5,47% yoy hingga menyentuh angka Rp 6,9 triliun.