"Risikonya lebih mengarah pada inflasi yang lebih persisten dan lebih sedikit pemotongan suku bunga dan kemungkinan kenaikan suku bunga daripada resolusi cepat apa pun," kata Philip Marey, ahli strategi senior AS di Rabobank.

Tingkat inflasi harga konsumen AS diperkirakan melonjak ke posisi tertinggi dalam tiga tahun terakhir sebesar 4,2 persen pada bulan lalu, dengan inflasi inti berada di angka 2,9 persen.

Data resmi pergerakan harga komoditas tersebut dijadwalkan rilis pada hari Rabu pekan ini.

Sementara itu, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang menjadi indikator utama The Fed tercatat naik menjadi 3,8 persen secara tahunan pada April.

Angka rata-rata PCE diproyeksikan berturut-turut mencapai 3,9 persen, 3,8 persen, dan 3,6 persen pada kuartal kedua, ketiga, serta keempat tahun 2026.

Kondisi tekanan harga berkelanjutan ini menyerupai situasi tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina memicu inflasi jangka panjang yang memaksa pengetatan agresif.

Kendati guncangan pasokan dinilai bersifat temporer, rentetan peristiwa geopolitik yang terjadi berturut-turut dikhawatirkan dapat mengubah ekspektasi pasar secara luas.

"Guncangan pasokan seharusnya bersifat sekali saja dan sementara.

>>> Pelonggaran Target Produksi Batubara Diprediksi Dongkrak Sektor Alat Berat

Tetapi jika kita mulai mengalaminya secara beruntun, hal itu dapat mulai menggeser ekspektasi inflasi dengan cara yang biasanya tidak kita duga," kata Eli Nir, ekonom AS di TD Securities.