Mayoritas ekonom dalam jajak pendapat memproyeksikan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% hingga akhir tahun 2026.

Keputusan penahanan tersebut didorong oleh laporan pekerjaan Mei 2026 yang kuat serta lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah.

>>> Emiten Terafiliasi Djarum Berbenah, IBST dan SUPR Siap Go Private

Sebanyak 72 dari 102 ekonom atau sekitar 70 persen peserta survei menyepakati proyeksi tersebut.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan hasil survei bulan lalu yang hanya mencapai hampir separuh dari total responden.

Tidak ada satu pun ahli ekonomi yang memprediksi penurunan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tanggal 16-17 Juni.

Pertemuan pertengahan Juni ini sekaligus menjadi momentum pertama bagi Kevin Warsh yang menjabat sebagai Ketua Fed setelah dinominasikan oleh Presiden Donald Trump.

"Akan sangat sulit bagi Fed untuk membenarkan tindakan apa pun saat ini dan dalam waktu dekat.

Akan sangat sulit untuk mendapatkan konsensus dari para pejabat Fed untuk menyetujui gagasan penurunan suku bunga," kata Tom Porcelli, kepala ekonom di Wells Fargo.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa Warsh akan menghadapi tantangan besar untuk menggalang dukungan pemotongan suku bunga di tengah tekanan eksternal.

Berdasarkan situasi tersebut, sejumlah pengamat memperkirakan The Fed bakal menghapus bias pelonggaran kebijakan moneter mereka pada pernyataan resmi bulan ini.

Sebagian besar analis kini memilih menunda perkiraan pemangkasan suku bunga ke tahun depan, bahkan beberapa menghapusnya sama sekali dari proyeksi tahun ini.

>>> Polisi Rekonstruksi Kasus Daycare Little Aresha, Orang Tua Korban Soraki Tersangka

Sebaliknya, risiko perekonomian saat ini dinilai lebih condong pada potensi pengetatan moneter lebih lanjut.