Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen berpotensi memengaruhi industri pergadaian.

Kebijakan moneter tersebut diprediksi akan menekan efisiensi biaya dana perbankan.

>>> Ekonom Ingatkan Potensi Kenaikan Suku Bunga KPR Efek BI Rate

Dampak pengetatan ini terutama akan menyasar perusahaan pergadaian yang mengandalkan pinjaman bank dengan sistem bunga mengambang.

Berdasarkan data OJK, situasi tersebut diperkirakan bakal memengaruhi tingkat keuntungan komersial perusahaan-perusahaan pergadaian di Indonesia.

"Berpotensi memengaruhi pergadaian, khususnya bagi perusahaan yang memiliki sumber pendanaan dari perbankan dengan skema suku bunga floating," ucap Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK.

Kendati profitabilitas perusahaan dibayangi tekanan, OJK memperkirakan situasi tersebut tidak akan langsung mengubah beban bunga yang dipikul masyarakat pengguna jasa.

Di sisi lain, pelaku usaha melihat dinamika ini sebagai tantangan sekaligus kesempatan baru.

"Di sisi lain, produk gadai tetap menjadi instrumen likuiditas pilihan masyarakat di tengah pengetatan kredit perbankan," ujar Ferdian Timur Satyagraha, Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian.

>>> Bank Raya Cetak Laba Bersih Rp6,79 Miliar pada Kuartal I 2026

Antisipasi Risiko dan Pertumbuhan Industri

Manajemen PT Pegadaian (Persero) mengakui bahwa pembengkakan biaya pendanaan menjadi konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Perusahaan mengantisipasi risiko tersebut lewat diversifikasi instrumen pembiayaan melalui penerbitan obligasi serta sukuk.

Langkah penggabungan berbagai sumber modal ini memicu penerapan blended cost of fund agar fluktuasi bunga acuan dapat diredam.

Di tengah tantangan makro, performa industri pergadaian nasional justru mencatat pertumbuhan signifikan.

OJK mengumumkan akumulasi penyaluran dana industri pergadaian telah mencapai Rp157,20 triliun per April 2026. Angka tersebut melonjak 56,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor pembiayaan konvensional berupa produk gadai masih mendominasi dengan kontribusi Rp132,29 triliun atau 84,15 persen dari total penyaluran.

>>> Cara Aktifkan SPayLater di Shopee 2026 dan Syarat Verifikasi

Nilai total aset bersih industri pergadaian per April 2026 melonjak 53,50 persen menjadi Rp188,52 triliun dari sebelumnya Rp122,81 triliun.