PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan. Target harga sahamnya berpotensi melejit lebih dari 90 persen setelah sentimen negatif pasar mereda.

Proyeksi ini didorong oleh normalisasi operasional Fase 8 yang diperkirakan meningkatkan volume material tambang hingga 800 ribu dry metric ton (dmt).

>>> Xiaomi Resmi Luncurkan Redmi Pad 2 di Indonesia, Harga Rp2,3 Juta

Angka tersebut tumbuh 79,1 persen secara tahunan.

Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal, dalam risetnya memproyeksikan pendapatan perseroan mencapai US$ 3,8 miliar pada 2026.

Angka itu diperkirakan naik menjadi US$ 4,2 miliar pada 2027.

"Laba bersih AMMN diproyeksikan melonjak 223,7% yoy menjadi US$ 806 juta pada 2026," tulis kedua analis tersebut.

Target harga saham yang ditetapkan berada di level Rp6.500 per lembar, mencerminkan estimasi EV/EBITDA 14,5 kali untuk tahun buku 2026.

>>> Jung Kyung-ho dan Sooyoung Girls' Generation Resmi Putus Setelah 14 Tahun

Faktor eksternal turut mendukung prospek ini.

Riset konsultan Wood Mackenzie memproyeksikan kenaikan permintaan komoditas global sebesar 24 persen menjadi 42,7 juta ton pada 2035, didorong ekspansi elektrifikasi dan kecerdasan buatan.

Pergerakan saham AMMN dinilai telah melewati fase krusial pasca-koreksi besar akibat sentimen non-struktural.

"Tekanan jual akibat MSCI sudah selesai, kami melihat level yang menarik untuk akumulasi saham AMMN," ungkap analis Melvin.

Risiko index overhang lanjutan dari FTSE GEIS dan MVGDX tetap ada, namun dengan skala lebih kecil dibandingkan eksklusi MSCI.

>>> Manchester United Hadapi Hambatan Besar Rekrut Aurelien Tchouameni dari Real Madrid

Hingga penutupan sesi pertama perdagangan Selasa, saham AMMN menguat 6,3 persen ke level Rp3.350 per lembar.