Mengenal Sejarah dan Arti Lambang Sate di Gedung Sate Bandung
Gedung Sate di Bandung saat ini berfungsi sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Bangunan ikonik ini memiliki keunikan pada namanya yang identik dengan kuliner daging tusuk tradisional.
Sebagian masyarakat mengetahui nama tersebut muncul karena bentuk tiang pada puncak atap yang menyerupai tusuk satai. Tiang yang memiliki enam bulatan itu sebenarnya berfungsi sebagai penangkal petir.
>>> Apa Penyebab Cita Citata Ajukan Gugatan Cerai terhadap Didi Mahardika? Benarkah Karena Orang Ketiga?
Asal-usul sebutan tersebut ternyata berawal dari spontanitas masyarakat setempat. Warga Bandung dahulu kesulitan melafalkan nama resmi bangunan ini, yaitu Departement Verkeer en Waterstaat.
Protes Warga Melahirkan Nama Gedung Sate
Edukator Museum Gedung Sate, Wenno Guna Utama menceritakan bahwa masyarakat sempat memprotes penggunaan nama berbahasa Belanda tersebut saat peresmian pada Mei 2025 lalu.
"Warga Bandung ketika gedung ini diresmikan pakai nama Belanda Departement Verkeer en Waterstaat, panjang pisan ya, warga Bandung protes ini Belanda meresmikan katanya ibu kota baru tapi pakai bahasa Belanda," ucap Wenno.
Protes bernada gurauan itu kemudian menyebar luas dari mulut ke mulut, mulai dari warung kopi hingga ke pasar.
Masyarakat akhirnya sepakat menyebut bangunan megah itu dengan nama Gedung Sate karena hiasan di atasnya.
>>> Timnas Indonesia Uji Coba Lawan Mozambik di GBK
"Atas dasar itu kemudian warga Bandung yang melihat gedung megah, mereka melihat di atasnya ada satenya, ada seperti sate padahal itu penangkal petir kan," kata Wenno.
Makna Enam Bulatan Penangkal Petir
Di balik bentuknya yang unik, enam bulatan pada tiang penangkal petir tersebut ternyata memiliki makna tersendiri. Bulatan itu merupakan simbol dari total biaya yang dihabiskan untuk mendirikan bangunan.
Wenno menjelaskan bahwa proses pembangunan struktur megah ini menghabiskan dana yang sangat besar pada zamannya.
"Yang kebetulan juga ada bulatan yang merupakan simbol biaya pembangunan Gedung Sate, kan bulatannya 6 ya, biayanya 6 juta gulden atau setara Rp 420 miliar pada tahun 1920.
>>> Satgas Pangan Selidiki Dugaan Kartel Sawit Petani di Indonesia
Jadi mahal banget gedung ini," tuturnya.
Update Terbaru
Xiaomi Siapkan Redmi K100 dengan Layar 2K untuk HP Gaming Tangguh
Selasa / 09-06-2026, 16:20 WIB
Bapenda Jateng Tagih Tunggakan Pajak Kendaraan Rp3 Triliun
Selasa / 09-06-2026, 16:20 WIB
BookCabin Travel Fair 2026 Tawarkan Diskon dan Cashback Rp1 Juta
Selasa / 09-06-2026, 16:19 WIB
Olympique Lyonnais Laporkan Dugaan Penggelapan Dana ke Kejaksaan Lyon
Selasa / 09-06-2026, 16:17 WIB
Bank Raya Perkuat Dana Murah Antisipasi Kenaikan BI Rate
Selasa / 09-06-2026, 16:17 WIB
BIFAN Rayakan 30 Tahun dengan Gebrakan AI dan Teknologi Baru
Selasa / 09-06-2026, 16:17 WIB
Konflik Lebanon Picu Ancaman Perang Skala Penuh di Timur Tengah
Selasa / 09-06-2026, 16:16 WIB
Kontestan MasterChef AS Pukau Gordon Ramsay dengan Roti Canai
Selasa / 09-06-2026, 16:16 WIB
Luhut Laporkan Kondisi Ekonomi Nasional ke Presiden Prabowo
Selasa / 09-06-2026, 16:16 WIB
Gubernur Malut Ungkap Krisis Fiskal Gaji PPPK di DPR
Selasa / 09-06-2026, 16:16 WIB
Michael Olise Cetak Hattrick, Prancis Kalahkan Irlandia Utara
Selasa / 09-06-2026, 16:15 WIB
Pemerintah Hapus Minyakita dari Program Bantuan Pangan Nasional
Selasa / 09-06-2026, 16:15 WIB
Ariana Grande dan Ethan Slater Dikabarkan Putus Setelah Tiga Tahun Pacaran
Selasa / 09-06-2026, 16:14 WIB
Apple Intelligence Kini Bisa Ganti Kata Sandi yang Bocor Secara Otomatis
Selasa / 09-06-2026, 16:13 WIB






