Meskipun investor tetap fokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi menjadi faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya.

Penerapan ekonomi sirkular dinilai memiliki korelasi erat dengan prinsip Environmental, Social, Governance (ESG).

Meskipun demikian, aspek ini diakui belum menjadi kewajiban mutlak dalam penilaian keputusan investasi di pasar modal.

Pihak regulator terus memotivasi pelaku pasar untuk beralih ke investasi berkelanjutan yang ramah lingkungan dengan ESG sebagai indikatornya.

Strategi sirkular ini berpotensi menjadi salah satu poin penting dalam penilaian performa korporasi.

Wawan Hendrayana menyatakan bahwa saat ini belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi. Namun, ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai.

Adopsi program hijau yang kian masif oleh sektor industri diproyeksikan mampu mendongkrak atensi pemodal terhadap isu ini.

Aktivitas edukasi dan sosialisasi berkala diyakini akan memperluas cara pandang para investor.

Jika adopsi semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya semakin didorong melalui regulasi.

>>> Timnas Indonesia Uji Kekuatan Lawan Mozambik di GBK

Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular.