Josua menilai kondisi saat ini lebih terkendali dibanding episode sebelumnya. Perbankan lebih kuat, nilai tukar lebih fleksibel, cadangan devisa memadai, dan utang pemerintah dalam batas terkendali.

Kepemilikan asing di pasar obligasi juga lebih rendah dibanding 2013. Perekonomian masih tumbuh, dengan kuartal I-2026 tercatat 5,61%.

>>> Wuling Siapkan Strategi Hadapi BYD M6 DM di Pasar Indonesia

Namun, pelemahan rupiah kali ini dipicu kekhawatiran investor dan menurunnya kepercayaan terhadap pasar keuangan domestik. Pelaku pasar menyoroti kredibilitas dan konsistensi kebijakan.

Josua menekankan bahwa ekonomi masih tumbuh tetapi pasar mempertanyakan kualitas kebijakan.

Tekanan lebih berat dibanding 2025 karena rupiah sudah berada di level lebih lemah, ditambah isu peringkat kredit dan tata kelola.

Jika pada episode sebelumnya investor bertanya "aset mana yang paling aman?" , kini pertanyaannya adalah "negara mana yang memiliki kebijakan paling kredibel dan risiko paling rendah?"

Solusi untuk saat ini adalah kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan kepercayaan pasar.

Di tengah tekanan geopolitik yang menaikkan harga minyak, langkah jelas untuk pertumbuhan ekonomi domestik diperlukan.

Josua menambahkan, persoalan utama adalah bagaimana pemerintah membuktikan disiplin fiskal, independensi moneter, tata kelola baik, pasar modal transparan, dan strategi pertumbuhan kredibel.

Jika kepercayaan pulih, pelemahan rupiah dapat diredam.

Sepanjang 2026, rupiah telah terdepresiasi 8,19%.

Pada kuartal I pelemahan terbatas 1,79%, namun kuartal II mencapai 6,51%, menjadikan rupiah mata uang terlemah di kawasan.

Pelemahan ini terjadi setelah berbagai perubahan kebijakan, seperti retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), kenaikan pajak dan royalti, serta kebijakan yang memperkuat posisi negara dalam aktivitas ekonomi.

Defisit fiskal belum teratasi, sementara kebutuhan anggaran belanja tinggi. Kebutuhan arus modal asing terus meningkat.

>>> Apple Resmi Luncurkan VisionOS 27 dan WatchOS 27 di WWDC 2026

Hingga Mei 2026, pemerintah menarik utang baru Rp386 triliun, setara 46% target pembiayaan APBN tahun ini.