Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan tren negatif setelah menembus level psikologis di bawah US$ 60.000.

Angka ini merupakan titik terendah sejak akhir 2024.

>>> Luis de la Fuente Yakin Lamine Yamal Bugar untuk Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Jika dibandingkan dengan rekor harga tertinggi sepanjang masa pada 2025 yang mencapai US$ 124.773, Bitcoin kini telah terkoreksi lebih dari 50%.

Meskipun penurunannya tampak fantastis, para analis pasar menilai kondisi ini belum menjadi rekor penurunan terburuk dalam sejarah aset kripto tersebut.

Sebagai mata uang digital, nilai Bitcoin tidak didukung oleh aset fisik seperti emas atau kinerja perusahaan seperti saham.

Nilainya sangat bergantung pada kepercayaan dan minat pasar untuk memilikinya.

Secara teknis, harga Bitcoin bisa saja menyentuh angka nol jika seluruh dunia sepakat untuk tidak lagi membelinya.

Namun, skenario tersebut dinilai sulit terjadi karena Bitcoin kini mulai memiliki fungsi nyata sebagai cadangan mata uang bagi korporasi.

Salah satu contoh nyata adalah SpaceX, yang menurut prospektus IPO diketahui memegang sebanyak 18.712 Bitcoin.

Langkah Elon Musk ini diharapkan dapat menciptakan "lantai harga" atau dukungan stabilitas bagi Bitcoin di masa depan.

Saat ini, investor agresif cenderung berpindah ke instrumen investasi yang sedang tren.

Laporan kuartal pertama 2026 dari broker Robinhood menunjukkan adanya penurunan pendapatan transaksi kripto sebesar 47%, sementara pendapatan dari pasar prediksi justru melonjak 320%.

IPO SpaceX yang akan datang diperkirakan bakal menyedot perhatian besar.

>>> Central Mega Kencana Raih Penghargaan HR Asia Best Companies 2026

Mengingat minat pasar yang sangat tinggi, ada potensi para trader agresif akan menjual aset kripto mereka untuk beralih ke saham SpaceX.