Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah pada perdagangan Selasa (9/6) menyusul penurunan cadangan devisa Indonesia dan tekanan dari faktor eksternal.

Analis menilai pemulihan pasar saat ini masih rapuh dan berbasis sempit. Meski Wall Street ditutup menguat, 60% saham di S&P 500 justru berakhir di zona merah.

>>> Kirim Motor Listrik Keluar Kota Wajib Kurangi Kapasitas Baterai

Kontrak berjangka saham Wall Street dan Eropa terpantau melemah pada awal perdagangan hari ini. IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dengan support di 5.200 dan resistance di 5.600.

Bursa Asia Rebound Terbatas

Penurunan tajam pada Senin memicu aksi beli teknis di sejumlah bursa Asia. KOSPI Korea Selatan melonjak 3,0% setelah ambles lebih dari 8% pada hari sebelumnya.

Nikkei 225 Jepang menguat tipis 0,3% setelah sempat minus 3,9%. MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,9%.

Sebaliknya, bursa Eropa dibayangi koreksi. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX Jerman melemah 0,6%, FTSE Inggris turun 0,4%.

Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga tergelincir 0,3% menjelang rilis laporan keuangan Oracle pada Rabu.

Analis: Suku Bunga Ketat dan Valuasi Jenuh Beli

Kenaikan imbal hasil obligasi terus menguji valuasi pasar saham yang sudah dianggap terlalu mahal.

Inflasi global masih lengket, dengan 46 dari 68 bank sentral mencatat inflasi di atas target.

Bank of America (BofA) menyebut pasar obligasi bersiap menghadapi kebijakan moneter lebih ketat, yang menekan aset berdurasi panjang, kredit swasta, dan mata uang emerging markets.

Indikator Global Breadth Rule BofA menunjukkan hampir setengah pasar saham dunia sudah jenuh beli, dipimpin Korea Selatan, Taiwan, dan Finlandia.

>>> Polisi Antisipasi Kemacetan Jelang Laga Indonesia vs Mozambik di GBK