Banyak orang baru memeriksakan gigi setelah merasakan sakit yang tak tertahankan. Padahal, gangguan gigi dan mulut sering tidak menunjukkan gejala awal.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat 57 persen masyarakat mengeluhkan masalah gigi dalam setahun terakhir. Namun, hanya sedikit yang berinisiatif mencari pengobatan medis.

>>> Kesalahan Finansial yang Bikin Susah Kaya, Banyak Orang Tak Sadar

Mayoritas pasien datang ke dokter gigi saat keluhan nyeri hebat sudah muncul. Pemeriksaan rutin belum dianggap sebagai langkah pencegahan.

Penyakit Gusi dan Gigi Berlubang Sering Tak Terdeteksi

drg. Melissa Delania, Sp.

Pros dari SATU Dental menjelaskan, penyakit gusi jarang menimbulkan rasa sakit. Tanda awal yang jelas adalah gusi berdarah saat menyikat gigi.

Banyak orang mengira pendarahan akibat tekanan sikat gigi terlalu keras. Padahal, itu adalah indikasi inflamasi akibat penumpukan plak dan karang gigi.

Gigi berlubang juga sering tidak terdeteksi. Jika lubang hanya di lapisan email, pasien tidak merasakan sakit.

>>> Ledakan Tambang di China Picu Lonjakan Harga Batu Bara Global

Rasa nyeri baru muncul saat infeksi mencapai dentin atau saraf gigi.

Pada tahap lanjut, perawatan menjadi jauh lebih kompleks dan mahal. Prosedur pencegahan seperti pembersihan karang gigi atau penambalan lubang kecil lebih sederhana dan murah.

Risiko Kehilangan Gigi di Usia Tua

Mengabaikan kesehatan mulut tidak hanya menyebabkan sakit jangka pendek, tetapi juga menurunkan kualitas hidup. Penyakit gusi dan gigi berlubang yang tidak ditangani bisa menyebabkan gigi tanggal permanen.

drg. Melissa menekankan pentingnya merawat gigi sejak muda agar fungsi pengunyahan tetap optimal di usia senja.

>>> Apple Gandeng Google Kembangkan Kecerdasan Buatan Apple Intelligence

Kontrol rutin setiap enam bulan sekali sangat dianjurkan untuk mendeteksi kerusakan sejak dini.