Meningkatnya kekerasan di beberapa bagian negara telah mengganggu mata pencaharian, memperburuk inflasi, dan membatasi akses terhadap makanan dan bantuan kemanusiaan.

Orang-orang terpaksa mengungsi ke kamp-kamp sementara, yang menyebabkan wabah kolera dan campak.

Pada 2026, DRC juga menghadapi wabah Ebola baru di provinsi Ituri dan Kivu Utara yang dilanda konflik.

Irak, yang secara rutin masuk dalam 10 besar, berjuang untuk menjaga ketertiban sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003.

Palestina berada di peringkat kesembilan, mencerminkan dampak konflik yang berkelanjutan, pembatasan, dan kesulitan ekonomi terhadap kehidupan sehari-hari.

Banyak warga Palestina hidup di bawah tekanan terus-menerus, yang memicu tingkat frustrasi dan kemarahan yang tinggi.

Negara Paling Tidak Pemarah

Finlandia memegang gelar sebagai negara terbahagia di dunia selama sembilan tahun berturut-turut.

Namun secara mengejutkan Vietnam menduduki peringkat sebagai negara dengan tingkat kemarahan terendah, di atas Finlandia, Meksiko, Kosovo, dan Islandia.

Berikut 10 negara dengan tingkat kemarahan terendah: Vietnam (5%), Finlandia (5%), Meksiko (7%), Islandia (7%), Kosovo (7%), Portugal (8%), Mauritius (8%), Estonia (8%), Kroasia (8%), dan Kazakhstan (8%).

>>> Polri Tunda Operasi Patuh Progo 2026 di Yogyakarta

Laporan ini menjadi alarm keras bagi para pemimpin dunia bahwa indikator kesuksesan sebuah negara tidak lagi bisa diukur hanya lewat angka PDB, melainkan juga dari kesehatan mental dan kesejahteraan emosional masyarakatnya.